Ratusan purnama

Tuhan, Aku tak sepenuhnya  mampu memahami hikmah dan makna disetiap kejadian yang Kau hadirkan dihidupku untuk kulalui ini.
Seperti sore ini.
Engkau hadirkan perasaan yang tak bisa ku jelaskan melalui ucap kata,
perasaan yang timbul  hanya dari sebait lirik lagu pengusir penat perjalanan, ratusan purnama. Perasaan yang hanya aku dan Engkau saja yang tahu bagaimana rasanya.
Perasaan yang hanya kita berdua yang memahami satu sama lain.
perasaan yang menggiringku mengerti akan maksud ketaatan yang selama ini kujaga bak ratusan purnama lamanya- katakanlah begitu adanya- tapi tak tahu pasti mengapa kulakukan semua itu.

 ‘sendirian aku tanpa cinta, tak pernah ada cinta yang lain, hatiku terbuka hanya untukmu’
Saat ku dengar lantunan merdu lirik ini Tuhan, Engkau buka tabir dalam pikiranku akan ketaatanku padamu hanya semata karena Engkau.
Kututup tubuh ini awalnya hanya karena rasa tak enak dihati kurasakan begitu saja. hari ini, aku sadar melalui perasaan itu, rasa cinta terhadapmu, terhadap tubuh pemberianmu, karena Engkau yang memintaku tak mengumbar pemberiaanmu yang berharga ini.
Kujaga hatiku dari siapapun yang tak halal sebelum waktunya  tanpa aku sadari selama ini alasannya  lantaran  hanya karena Engkau, Engkau  yang pantas memilikinya entah berapa ratus purnama lamanya. 

Tuhan, bukan hanya perasaan luar biasa ini. 
Ratusan purnama itu membuatku merasa rindu padaMu,
rindu bahkan hampir ku menitikan tetesan bening saat lirik indah ini mengalun syahdu ditelingaku ‘biar jauh jarak pandang kita,namun hati dan jiwaku selalu merasa disisimu’,
lalu kuingat lirik sebelumnya,
mengisahkan seorang kekasih menyapa cintanya, mengabarkan perasaan yang menggebu dijantungnya, mengenang wajah sang kekasih.
Tiba- tiba kututup mata ini, kulihat kedalam hatiku melalui rasa rindu yang tengah kurasakan, ‘aku ingin melihatmu Tuhan’, hatiku berkata lirih
Lalu, suara yang lain menggema dari sudut lain hatiku, ‘lihatlah melalui nikmatNya, betapa ia mencintaimu’.
Setelah itu, aku tak sanggup lagi membendung.
Pandanganku kabur berkaca- kaca beserta sesak didada saat Kuingat kelakuan dan perbuatanku, kuingat perasaan dan fikirku selama puluhan purnama yang telah kulalui tak sepadan dengan cinta yang telah kudapat dariMu. 

Aku mengulang lagu ini, entah berapa puluh kali.
Aku meresapi cinta yang selama ini kudapatkan dariMu seperti lirik awal lagu ini ‘ratusan purnama berlalu, tapi cinta tak pernah berlalu’, kaca-kaca itu kurasakan menghambur jadi bulir dingin kemudian,  rasa sesakku mencapai klimaksnya saat suara sendu sang penyanyi mengalunkan lirik syahdu ini ‘walau kau usir aku dihidupmu, tapi cintaku tetap diam’. 

Bagaimana tidak? Kodratku sebagai seorang manusia yang tak luput dari lupa, dan lalai,  begitu sering muncul bertengger hingga menutupi ingatku, tetapi Tuhan, walaupun aku dalam lupa, cinta itu tetap diam ditempatnya, tak luput aplagi lupa Engkau  berikan padaku.
Dibalik rasa bahagia akan perasaan ini, aku pun malu. Malu akan cinta yang setengah setengah kurasakan padaMu, padahal cintaMu malah sepenuhnya padaku.
Tuhan, ratusan purnama yang akan datang mulai hari ini, aku rela menjatuhkan hatiku berapa ribu kalipun, tapi hanya padaMu saja.  
yiyaDesu_19 may 2016. Makassar

 
song Lyric of “ratusan purnama” by Melly Goeslow
ratusan purnama berlalu
tapi cinta tak pernah berlalu
walau kau usir aku dihidupmu
tapi cintaku tetap diam

ratusan purnama berlalu
sendirian aku tanpa cinta
tak pernah ada cinta yang lain
hatiku terbuka hanya untukmu

duhai cinta enggan menawar rasa
gelombang marahmu terlalu berlebih

berderik- derik bunyi jantungku
bila kukenang wajahmu
biar jauh jarak pandang kita
namun hati dan jiwaku selalu merasa disisimu

duhai cinta sulit kumeraba
diam dan dinginmu mengapa
ribuan hari kumengingatmu
membaca semua puisimu
mengering raga ini menantimu
ratusan purnama cinta kita kembali

Komentar

Postingan Populer