cyber friend



Day 4
ku panggil dia...
heartofwisdom.com

Hidup di abad- 21 seperti sekarang ini, manusia telah megklaim dirinya masing- masing sebagai seorang modern lantaran teknologi- teknologi yang mereka gunakan untuk menunjang kehidupan mereka. Bagiku pernyataan ini wajar- wajar saja! Lalu dunia berputar 180% kemudian seringkali mereka yang disebut manusia modern ini, siap- siap saja turun derajat dianggap manusia kampungan, dan terpinggirkan bila social media dunia maya saja tak punya atau lebih parah tak punya pengetahuan akan hal itu. Yang ini, aku pribadi sebenarnya merasa geli untuk menjudge, meskipun kenyataannya begitu. Dan karena setiap yang merasa manusia tak ingin dianggap kampungan, mereka berbondong- bondong, menjadi konsumen setia beberapa social media, sebut saja salah satunya Facebook. Apakah alasan setiap orang memiliki social media lantaran tak ingin dianggap sebagai orang kampung? Padahal banyak loh orang yang tinggal dikampung tapi malah punya seabrek social media, contoh kecilnya adalah saya pribadi. Saya adalah orang kampung, punya social media dan itu tak jadi masalah. Terlepas dari manusia modern atau orang kampung, faktanya adalah setiap orang di era ini telah terikat dengan social media dan seabrek tetek-bengek dunia maya.
Apa yang unik dari social media dunia maya ini? aku akan mengambil salah satunya saja sebagai sample. Dunia maya facebook. Apa kamu masih ingat kapan pertama kalinya kalian memiliki akun dunia maya ini? aku pribadi memilikinya saat berada di bangku sekolah menengah atas. Jika aku tak salah ingat, sudah sekitar 10 tahun yang lalu. Bayangkan! Sudah seberapa banyak teman dunia maya yang aku punya selama 10 tahun itu? Tapi, seperti yang kamu tahu dari semua teman yang kupunya itu, kebanyakan dari mereka adalah orang- orang yang tak pernah aku temui secara langsung di dunia nyata. Aku mengakui, dunia maya memang hebat. Ia mampu mempertemukan kita, dengan orang dari masa lalu yang sudah lama tak bertemu dapat berkomunikasi kembali, membuat kita semakin dekat dengan orang- orang dalam kehidupan kita yang nyata bahkan memperkenalkan kita dengan orang- orang baru yang begitu nun jauh diseberang sana meskipun hanya lewat mata dan suara. Alhasil, timbullah rasa penasaran seperti apa rupa dan sifat mereka sesunguhnya.
Aku punya beberapa teman dunia maya dimana aku mengklaim dekat dengannya. Dia adalah keturunan India, namun lahir dan tinggal di pakistan. Dengan nama akun, Mian Aimal Zeb, akupun memanggilnya akrab sebagai zeb. Jujur saja, aku tak paham, mengapa akun ku sampai padanya yang jelas ia berada jauh dari bagian bumi Indonesia. Tapi, itulah keajaiban dunia maya bukan? Kami berteman di tahun 2014 silam. Zeb menambahkan akunku sebagai temannya, entah ia menemukanmu dimana, bahkan tanpa teman bersama. Sesaat setelah mengkonfirmasi pertemanan dengannya,  beberapa menit kemudian chat inbox ku aktif. Aku mengeceknya segera dan mendapati bahwa itu dari dia.
Awal komunikasi kami tentu saja begitu awkward khas perkenalan dunia nyata yang masih jaim-jaim tak banyak kata. Pertanyaan pun hanya seputar identitas. Aku masih ingat chat pertama darinya. Zeb menyangka diriku sebagai orang Turkey, entah dari mana gelagat sebagai orang Turkey terlihat di diriku, padahal profile photo aktif yang kupajang di dinding kronologi masih asli wajah khas pribumi Indonesia sebagai ras Mongolian. Chat berlanjut kemudian ia menanyaiku banyak hal; tentang pendidikan, dari mana berasal, sedang sibuk mengerjakan apa, hingga anggota keluarga yang ku punya pun tak luput darinya. Semenjak pertemanan kami, dia tak pernah absen untuk sekedar bertanya kabar ataupun cuaca hari itu. Mulailah, komunikasi kami semakin lancar, membuka hubungan yang semakin terbuka diantara aku dan dia.
Kami berjarak sekian ribu miles. Itu adalah fakta diantara kami. Aku hanya bisa melihat wajahnya melalui layar kaca, juga fakta yang terjalin diantara kami. Dia menganggapku sebagai saudara perempuannya, dan aku yang realitanya tak memiliki satupun saudara lelaki, tentu saja dengan senang hati menobatkannya menjadi saudara lelakiku, tepatnya saudara maya. Layaknya seorang saudara, lama- lama aku dibuat penasaran juga ingin bertemu dengannya secara langsung. Terlebih saat ia meminta ku untuk mencarikan seorang kekasih untuknya. Dengan senang hati, aku memperkenalkan dirinya pada salah satu teman kampusku. awalnya mereka berkomunikasi dengan baik, meskiun pada akhirnya kandas entah tersandung apa. Mengenalku dengan baik, dan hubungannya bersama teman satu kampusku, membuatnya tak sabar ingin mengunjungi Indonesia. Akupun berharap yang sama. Ia berceloteh panjang- lebar bahwa orang Indonesia adalah orang yang ramah. Kuakui itu, pun telah menjadi rahasia umum bagi orang asing seperti dia. Saat ia menguutarakan ini, aku berfikir mungkinkah Zeb menyimpulkan dari gaya bahasaku semata lalu ku pertanyakan,  mungkinkah ia punya beberapa teman orang Indonesia untuk menemaninya berkomunikasi? Apapun itu, dia tetap Zeb, seorang saudara mayaku.
Zeb, dia memang hanyalah seorang teman dunia maya. Tapi entah mengapa aku merasa ada jalinan diantara kami yang membuatku menangkap kesan dihati bahwa dia layak kunobatkan sebagai saudara. Iyah, zeb tak pernah memanggilku dengan sebutan friend, yang aku baca darinya selalu dan selalu ‘my sister’. Dia teman chat yang asik dengan tutur katanya yang sopan.
Selalu ada harapan yang tertinggal di benakku, bahwa waktu akan mendengar dan mengijinkan semesta membawa satu pertemuan dengannya didunia nyata suatu hari nanti.
_yiyakk-27juli2017
#basabasistore #penerbitdivapress #7haritantanganmenulis


Komentar

Postingan Populer