3 film favorit
3 film favorit.
![]() |
| www.wordpress.com |
Aku sering mendapati diriku, jika ditanya
dalam sebuah forum perihal perkenalan diri maka aku akan berkata tanpa ragu
bahwa aku memiliki hobby watching movie, salah satunya. Padahal
tak seberapa banyak juga film yang pernah aku nonton, meskipun memang
sebenarnya aku menyukai banyak genre film. Iyah, itu betul adanya. Sebut saja,
horror, thriller, action, romance, comedy, history, science ficion, fantasy
bahkan film kartun pun aku memiliki beberapa yang menjadi kesukaan dan tak
pernah terlewat untuk aku nikmati. Kemudian, setelah menyebutkan hal-hal yang
aku suka lakukan, beberapa orang kadang menyodorkan pertanyaan lanjutan, yang
kesannya seolah ingin mengetahui perihal aku lebih dalam. Dengan pertanyaan
yang lebih spesifik, judul film yang pernah aku nonton dan menjadi favorit.
Terkadang jika ditanya seperti itu, aku menjawabnya asal, tapi kadang pula
kujawab dengan menyertakan alasanku menjadikannya favorit tapi lebih sering aku
menanggapinya kebingungan lantaran memikirkan bahwa tak mungkin kunonton film
itu jika tak aku sukai. Suka dan favorit, apa ada bedanya?
Tentu saja ada. Bayangkan saja, aku pernah
menonton film ini berkali-kali, tapi tak pernah ada rasa bosan menghampiri
dibenakku. Malah semakin sering aku mengulang, semakin kuat ketertarikanku pada
alur cerita, tokoh- tokohnya bahka segala hal menyangkut tentangnya. Aku
berfikir bahwa kelakuanku ini, sudah seperti seseorang yang tengah kasmaran
lalu jatuh berkali- kali di hadapannya. Film- film ini bahkan mampu memengaruhi
kecenderunganku menyukai sesuatu yang lain. Sebut saja, serial Samurai; Rurouni Kenshin. Film ini berseri trilogi dari yang pertama
berjudul Rurouni Kenshin, kemudian
yang kedua Kyoto Inferno dan berakhir
dengan judul the legend ends. Lalu
melanglang buana menyeberangi samudera, dari film berlatar Jepang, aku menepi
ke film berlatar Negara yang terkenal dengan sebutan The Black Country dan lagi- lagi kutambatkan pilihanku pada film
yang berseri, sebut saja Harry Potter.
Tak beranjak dari negara ini aku menemukan film berjudul Elizabeth; The Golden Age sebagai film ketiga yang aku gandrungi.
Saat masih duduk dibangku sekolah, aku pernah
membaca dibuku pelajaran bahasa Indonesia bahwa sebuah cerita entah itu cerpen,
dongeng atau novel selalu mengandung pesan moral didalamnya. Tentu saja harus,
itu sudah jadi bagian unsur pembangun dari sebuah cerita, bahkan menjadi unsure
pembangun dari dalam. Setelah beralih menjadi seorang mahasiswa, aku mendapati
pelajaran itu lagi, tapi sedikit beda karena kutemukan unsur pembangun karya
sastra itu juga ada di film. Apakah film termasuk karya sastra?- ini
pertanyaanku untuk siapa saja yang menemukan tulisan ini!
Sebagaimana karya sastra yang memiliki pesan
moral, Rurouni Kenshin dimataku ia
sarat akan hal itu. Awalnya aku tidak terlalu menyukai Negara dimana film ini
berlatar. Itu adalah hasil dari kesanku belajar sejarah penjajahan di Indonesia
selama bersekolah ditambah lagi saat kutamatkan membaca salah satu karya besar
Bapak Pramodya, Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer; Catatan Pulau Buru.
Saat membaca ini, air mataku tak henti berlinang, sungguh menyayat hati hingga
ketulang. Hal inilah yang mencuri perhatianku dan menyukai film ini kemudian,
lantaran ceritanya yang mampu mengubah mindset ku dan membuka sedikit jalan
untuk menyukai Negara yang oleh ayahku lebih dikenal dengan sebutan Nippon ini. aku tertarik akan sosok
seorang samurai yang diceritakan dalam film ini. seseorang yang mengabdikan
hidupnya dalam pertumpahan darah, bukan karena kemauannya akan tetapi
pengabdian untuk bekerja dan melayani Negara yang saat itu masih berbentuk
kekaisaran. Lebih dari itu, dari film ini aku belajar akan tekad, harga diri,
sikap disiplin dan keberanian yang begitu apik dipertontonkan- menyatu menjadi
satu alur cerita menarik. Hal inipun menjadi tolok ukur ku dan menyimpulkan
bahwa kupikir mereka memang pantas dikenal sebagai salah satu negara maju
lantaran memiliki sikap seperti itu.
Film kesukaan kedua yang tak henti- hentinya
kuputar ulang adalah serial Harry Potter.
Semua orang tentu saja tahu film ini bertemakan apa dan kufikir bukan aku saja
yang sangat menyukai film ini, mengingat bagaimana film ini begitu terkenal dan
melegenda sebagai film fantasi bertemakan dunia penyihir. Film ini kunobatkan
sebagai salah satu film favorit lantaran tentu saja karena tema dan alur
ceritanya yang menarik, penuh imajinasi dan hal- hal tak terbayangkan yang bisa
terjadi di dunia nyata. Kala itu aku masih duduk dibangku sekolah menengah
pertama, saat pertama kali menonton seri pertama dari film ini. aku masih anak
remaja kala itu, dan menonton film ini membuat imajinasiku semakin tinggi saja.
Aku menunggu setiap seri filmnya terpublish hingga akhir, bahkan novelnya pun
aku telusuri ke took buku. Aku mencari segala hal tentang film ini, dari foto-
foto para pemainnya yang sengaja kucetak dan kutempel di buku binder, biodata
mereka, fakta- fakta tentang filmnya, hingga penulisnya pun aku dibuat kepo. Tak berhenti sampai disitu,
kegilaanku akan film ini, berlanjut hingga someone
special yang pernah mengisi hari- hariku kupanggil dengan sebutan Harry Potter alias sikaca mata. Aku tak
pernah menyangka, pertemuan pertamaku dengan seri The Sorcere’s Stone membawa
dampak yang begitu kuat. Aku suka berimajinasi, dan kebutuhan akan imajinasi
itu kutemukan difilm ini, yah bahwa sihir itu memang ada disekitar kita. dari
film ini, aku menyukai setiap film dengan tema penyihir hingga beranjak dewasa
saat ini. film ini pun membuka jalanku menyukai bahasa Inggris dan membentukku
menjadi seorang Hogwart dreamer, yang
kini menjadi jalan hidup yang menyertai pendidikan ku. Aku mempelajari diriku
sendiri kemudian. Saat aku menyukai sesuatu, aku tidak bisa main- main dengan
hal itu.
Masih tentang film di Negara, dimana penyihir
dan muggle bisa hidup berdampingan. Bukan tentang imajinasi atau film penuh
khayal bagaimana sebuah gambar berbingkai mampu mengoceh dan mondar- mandir
mengubah posenya. Kali ini berkisah tentang sejarah, the true story dari
beratus-ratus abad yang silam. Aku berjumpa dengan film, sama dengan
perjumpaanku dengan seri Harry Potter untuk pertama kalinya, kala duduk
dibangku sekolah menengah. Tidak sulit untuk membuatku jatuh hati pada film
ini, sebab sebelumnya aku memang telah tertarik pada negaranya. Apalagi ketika
mendengar sabda dari seorang guru sejarahku kala itu, bahwa Inggris tidak
sekadar menjajah Negara jajahannya, akan tetapi ia membuatnya maju. Aku
mempercayai itu, melihat sebagian besar memang terbukti adanya, sebut saja
Negara tetangga; Malaysia dan Singapura. Film yang berjudul Elizabeth; the Golden Age dipublish
tahun 2007 silam, mengambil latar abad ke-16 diakhir tahun 1500 an di Inggris
menceritakan tentang kisah keemasan Ratu Elizabeth I yang begitu dikenang dalam
sejarah. Aku menyukai segala hal tentang film ini, bahwa ia adalah seorang
wanita, yang mana kala itu di Inggris dipandang sebagai gender yang subordinat
dari gender maskulin namun mampu menjadi seorang Ratu dan mengomando pasukannya
melawan kerajaan Spanyol yang dipimpin Raja Philip
saat itu. Dari film ini, aku mendapatkan pengetahuan baru tentang agama Kristen
yang terbagi menjadi Kristen katolik dan protestan. Menamatkan film ini dua
kali dibulan yang sama, membawaku memahami Negara Inggris yang memang begitu
superior. Kecenderunganku pada Negara ini pun menjadi- jadi aku mencari tahu
sejadi- jadinya tentang sejarah Inggris, terlebih tentang riwayat hidup Ratu
Inggris yang fenomenal ini dijuluki The
Virgin Queen ini, apalagi setelah kulanjutkan menikmati film yang berjudul The Other Boleyn Girl yang dirilis tahun
2008 silam. Saat itu aku menikmatinya dichannel HBO yang tersedia dirumah. Hal yang tak terduga kutemukan adalah,
film ini menceritakan tentang asal- usul Ratu Elizabeth I, yakni tentang kisah hidup tragis ibu dari Ratu
Elizabeth bernama Anne Boleyn yang
dihukum mati.
Hobby nonton dipikiran sebagian orang bisa
saja merupakan sesuatu hal yang dipandang tak berguna atau sia-sia. Itu pikiran
mereka dan aku tak perlu menggubris hal itu. Tapi bagiku pribadi, menonton film
seperti halnya membaca sebuah novel atau buku non-fiksi, ia menyguhkan sesuatu
yang berpotensi membuka wawsan dan pengetahuan kita. pengetahuan apapun itu,
selama kita mampu mengambil benang merah dari apa yang disuguhkan didalamnya.
_yiyPakk, 24 Juli 2017.
#basabasistore #penerbitdivapress


Komentar
Posting Komentar