kisah absurd bersama sahabat



Day 2
Akankah Tuhan maklum pada kita?

Orang bilang masa SMA adalah masa paling menyenangkan dari semua jenjang pendidikan yang pernah kita lalui.  Difikir memang ada benarnya lantaran mengingat bagaimana aku di sekolah dasar hanya ingat bermain dan belajar saja, lalu di sekolah menengah pertama, sifat kekanakan masih begitu kuat menjelma dan alhasil membuatku masih suka ngambek- ngambekan tak jelas, lalu masuk ke dunia perkuliahan, dunia dimana senioritas begitu kuat dengan ideologi- ideology absurd khas mahaisiwa yang campur aduk mendorongnya menjadi sosok yang lebih condong untuk mencari keAKUan dari pada kebersamaan.
Lalu apa yang membuat masa putih abu-abu begitu special? Aku pernah merasakannya dan kuiyakan dengan segenap pengalamanku bahwa masa itu adalah masa yang manis, penuh gejolak dan emosi yang membuatnya spesial. Dimasa ini aku tahu bagaimana rasanya jantungku tiba- tiba berdegup kencang lantaran seseorang yang sekenanya saja muncul memenuhi seluruh ruang otak. Lalu ada geng; segerombolan anak remaja yang sukanya duduk bareng, ngumpul bareng, cerita bareng lalu lanjut pulang bareng. Saat itu, aku juga punya satu geng. Aku menamainya geng F4. Bukan karena nama kami berawalan F, hanya saja kami adalah 4 orang gadis remaja yang sama- sama gandrung dengan drama korea  Boys Over Flower kala itu.
Pertemanan yang kami jalin dari SMA, tak kusangka akan selanggeng ini terlebih dengan dia; member f4 yang bagiku sendiri adalah dia yang baru aku kenal saat berada di tingkat dua SMA, dipertemukan dalam naungan panji pramuka waktu itu. Aku memanggilnya karr, itu adalah sebutan pribadi dariku saja untuknya. Teman- teman kami yang lain memanggilnya amma. Sejujurnya aku dan dia sangat berbeda. Aku menyukai sesuatu yang seperti ini, dia akan menyukai sesuatu yang seperti itu. Meskipun begitu, kami menyatu dalam satu rasa. Rasa Kegilaan akan kengintahuan pada hal- hal yang belum pernah kami lakukan.
Pagi itu dibulan Oktober minggu kedua. Tepat dihari kelahiranku kekonyolan kami menyeruak hendak merealisasikan rasa penasaran yang telanjur membuncah. Dua minggu sebelum hari itu, karr memang mengunjungi ku kekosan dan menginap untuk beberapa pekan sekalian merayakan hari bertambahnya lagi umur ku yang semakin beranjak tua saja. Pagi- pagi buta, ia bangun membuatkan ku pudding coklat bertabur oreo komplit dengan vla vanilla dengan  kerlip lilin menyala indah di atasnya. Surprise sederhana namun bagiku begitu bermakna. Aku bangun, merayap dikedinginan lalu disambut tawa cengingisan darinya. Aku merangkulnya seraya terharu. Kelahiran ku kembali pagi itu begitu sarat makna. Selepas ritual tiup lilin dan menyantap pudding paling special yang pernah ada, aku menyodorkan sebuah rencana. Rencana sedikit gila menurutku. Dalam benakku saa itu hanyalah rasa ingin tahu yang besar, apa lagi bertepatannya dengan hari special yang akan menambah kesan. Aku inggin membuatnya semakin tak terlupakan.
Karr telah selesai beradu dengan panasnya setrika, sesaat setelah aku menyelesaikan ritual mandiku. melihatnya dengan setelan yang tak biasa, menyadarkan ku saat itu juga bahwa kami benar- benar akan melakukannya. rambutnya yang tersumpit dengan paduan kacamata membuatku menimpali dandannya bahwa karr saat itu benar- benar mirip seorang nasrani. Akupun bergegas memilah pakaian yang akan kukenakan. Kujatuhkan pilihan pada celana kulot panjang dan baju kemeja coklat yang juga berlengan panjang. Sedetik aku termangu di depan cermin. Memandangi rambutku yang terjuntai tanpa hijab sebenarnya tak kuasa kulakukan. Lalu kuputuskan untuk memakaikannya kupluk yang senada warnanya dengan bajuku. Tatkala karr melihatku dengan dandanan seperti itu, ia berkomentar bahwa aku malah lebih mirip orang Korea dengan setelan musim dinginnya. Saling melempar komentar seperti itu, membuat kami kembali cengengesan apatah lagi menyadari bahwa penyamaran ini adalah penyamaran paling absurd dan nekat. Nekat, karena meskipun tak rela, kami harus melepas hijab yang bertahun- tahun menjadi identitas kami, untuk sebuah penyamaran sempurna.
Tak lama berselang, kami sudah duduk di dalam sebuah bentor yang semakin melaju menjauhi kos yang aku tinggali menuju salah satu tempat peribadatan umat Nasrani di kompleks itu. Dari dalam bentor, hatiku tak berhenti bergumam, memohon ampun atas apa yang akan kulakukan hari itu. Aku terus memegangi rambutku, yang untuk pertamakalinya semenjak hijrahku harus menghirup udara bebas sekali lagi lantaran tuntunan penyamaran dari hal absurd yang telah kami rencanakan ini. Tanpa menunggu waktu lama, daeng bentor sudah tiba saja membawa kami didepan sebuah gereja. Hatiku semakin tak karuan, meraba- raba entah apa yang akan kami lakukan setelah berada didalam sana. Bukan hanya aku, karr pun demikian, kami diliputi cemas jika nanti setelah berada di dalam sana, duduk berdampingan dengan mereka lalu kami disuguhi sesuatu yang akan membuat keimanan kami sendiri hancur. Meskipun kami telah sebelumnya mencari tahu apa yang mereka lakukan saat ibadah minggu, tapi tetap saja kami diliputi rasa cemas, entah mereka akan mencium keanehan tingkah laku kami atau sebaliknya, tapi lagi- lagi kami telanjur  telah berada di tempat itu.
Tekad yang sempat ragu sejenak, dengan terpaksa kami kokohkan. Melihat mobil yang terparkir didepan gereja dan jemaat yang telah berbondong- bondong datang, memberi sedikit keberanian kepada kami untuk melangkahkan kaki, menyepadankan langkah memasuki rumah yang seharusnya tak pernah kami sambangi. salib dan mimbar dengan kursi- kursi panjang berderet memenuhi ruangan menyambut kedatangan dua orang asing ini. Iyah, berada diantara mereka, kami terlihat nampak lucu dan agak mencolok lantaran rok dan celana kulot hanya kami saja yang mengenakannya serba panjang. Tak ingin terlihat canggung, sesekali kami tersenyum, saling pandang dengan mereka. Terlepas dari perbedaan keyakinan diantara kami, masih ada humanisme yang mampu menyatukan perbedaan itu. Perbedaan antara Islam dan Kristen yang selama ini hanya samar- samar kudengar, aku membuktikannya sendiri, tidak lagi hanya dengan pendengaranku, tapi dengan segenap indera yang tertanam ditubuh ini dan biarlah itu tersimpan menjadi kesan untukku pribadi. Aku menghargai mereka, tentu saja. Perbedaan adalah karunia dari Tuhan. Apa yang kulakukan dengan karr hari itu, sungguh tak ada niatan untuk mencemari atau mengolok- olok keyakinan diluar keyakinanku. Penyamaran itu semata- mata kembali kepada diriku sendiri dan sahabatku, karr bahwa kami melakukan semua itu, menyusup dalam bilik sembahyang mereka bukan untuk menjelekkan, hanya saja sebagai pembuktian diri bahwa imanku pada Tuhanku masih lebih kuat.
_yiypakk- 25juli2017
#basabasistore #penerbit divepress #7haritantanganmenulis

Komentar

Postingan Populer