harapan

Day 6
Aku lebih suka menamainya, mimpi... 
Mypersonalalbum
Mimpi dan harapan. Aku pernah mendengar seorang tua berkata,"harapan dan impian itu akan ada, dimana manusia masih hidup disana". Harapan dan impian. Dua kata yang berbeda, tentu saja. Namun, jika memperbincangkan impian, harapan selalu mengikut setelahnya laksana ekor, bergoyang kekiri dan kanan, tatkala si empunya melangkahkan kakinya. 
 Aku punya harapan, lebih besar lagi, kusebut ia mimpi yang begitu ingin ku wujudkan di ruang nyata. Memperbincangkan perihal mimpi, rasa- rasanya aku khawatir, tak bisa menuntaskan tulisan ini. Iyah, lantaran mimpi yang ingin kuwujudkan menyata segitu banyaknya. Tapi, hari ini akan kupilih beberapa yang begitu ingin kusaksikan dalam nyata 5 atau bahkan 10 tahun kedepan, jika Tuhan masih memberiku usia melanjutkan kisah. 
 Hari ini, 29 juli ditahun 2017,tepatnya. 5tahun yang akan datang, aku ingin melihat diriku berdiri dengan wajah sumringah penuh syukur, mengenakan toga dari salah satu universitas di Negara impianku. Aku membangun mimpi ini, sejak berada di bangku sekolah menengah atas. Beberapa tahun yang lalu, tapi hingga detik ini, mimpi itu masih mewujud imaji, sebatas wacana dan pemikiran tanpa realisasi. Setiap malam aku menyebutnya dalam hati. Aku sadar, sekadar menyebutnya saja tak cukup! Aku butuh tindakan, butuh usaha yang mengharuskanku jatuh-bangun, berdarah- darah dan terpental layaknya bola, jika aku betul sungguh ingin menggenggam mimpi ini. Salah satu sahabatku pernah bertanya mengapa aku begitu ingin bersekolah jauh di luar sana, bahwa bukankah lebih terasa nyaman memiliki impian melakukan perjalanan keluar sana, hanya untuk sekadar melancong dan jalan- jalan saja?. Aku tak menjawab apa2. Dalam benakku, aku hanya merasa bahwa mengunjungi Negara istimewa yang terpandang akan kemajuan dan kecerdasannya melalui usaha dan kemampuan diri, lebih terpandang ketimbang mampu mengunjunginya lantaran sebab kita memiliki materi untuk mewujudkannya. Sejujurnya, ada rasa takut dalam benakku, menyebut ini sebagai salah satu mimpi yang aku harus mewujudkannya. Aku dirundung cemas, ia hanya akan berakhir menjadi wacana kosong tanpa isi nantinya, tapi bukankah seorang bijak berkata,"It is not dream, untill it scares you enough! ". Impian itu harus menakutkan, untuk pantas disebut mimpi! 
 5 tahun, bukanlah waktu yang lama untuk sebuah impian yang menakutimu dengan mudahnya terwujud bukan? Tapi bagaimanapun, tak ada yang tahu masa depan. Itulah mengapa Tuhan memberi perintah untuk kita berusaha. Iyah, harapan dan impian ku yang kedua adalah menyambangi rumah suci Tuhanku, berpakaian ihram,menggenapkan rukun islam sebagai identitas ku menjadi seorang muslim pengikut Rasulullah saw, akan tetapi aku tak ingin seorang diri. Aku ingin mencium tanah haram, dengan ayah dan ibu di kedua sisiku. Aku menginginkan ini, lebih dari impianku yang pertama, impian kedua ini aku membubuhkan segenap harapan untuknya agar mampu menyata. Siapa yang tahu, 5 atau 10 tahun yang akan datang, aku masih bersama mereka, ataukah aku telah pulang membawa rinduku yang hakiki ini dihadapan Nya. Aku ingin lebih dahulu terpanggil kerumah suciNYa dengan ayah dan ibu yang menemani langkahku, sebelum aku terpanggil untuk menyerahkan rinduku dihadapanNya. 
 Iyah, 5 tahun. Untuk sebuah perasaan akan kesuksesan! Aku dengan segenap harapan akan impian dan mimpi-mimpi yang meletup-letup dalam dada untuk mampu melihatnya dalam realita, merasakannya dalam setiap hembusan nafas dan menikmatinya disetiap derap langkah, adalah kesuksesan. Aku dan 5 atau 10 tahun yang akan datang, kesuksesan itu telah ada dalam genggaman, dan aku hidup dalam setiap mimpi- mimpiku. Inilah impian ku yang ketiga. 
_yiypak-29juli2017
#basabasistore #penerbitdivapress #7haritntanganmenulis

Komentar

Postingan Populer