keanehanku

Day 5
Iilfeel itu urusanmu! 
Mypersonalalbum
"Apa aku aneh?"
"Siapa yang bilang?, tidak!," Pergulatan kata dalam fikiranku, yang tak henti bergema satu sama lain. 
"Kamu hanya sedikit berbeda, dari orang lain, " batinku menambahkan. 
Di luar dari apa yang kebanyakan orang biasa lakukan, aku lebih suka berbeda untuk banyak hal. Aku suka sesuatu yang unik, iyah, memang! Telah menjadi karakter dasar yang ku gandrungi. Tapi dengan perilaku ku sendiri, itu cukup menyita perhatian mereka yang tak suka dengan apa yang aku perbuat. 
 Aku menyadari ini, selepas tamat dari bangku sekolah menengah pertama. Aku mulai tak bisa lepas dari hal yang satu itu hingga sekarang. Kemana aku pergi, pasti akan kubawa serta dia. Dia siminyak kapak, andalanku. Apalagi saat akan melakukan perjalanan yang mengharuskanku berkendara. Saat belajarpun sama, aku tak bisa lepas dari minyak kapak, bahkan hingga ingin tidurpun seringkali ku taburi keseluruh badanku. Dulu, aku sangat sering terserang pusing dan sakit kepala, dan untuk meredakannya aku tak mau minum obat. Jadilah kakakku meminjamkan minyak kapak kepunyaannya untuk ku hirup atau sekedar ku oleskan pada kening dan dahiku. Awalnya aku tak suka. Bahkan tak tahan aroma obat dan sensasi pedis bercampur dingin menyusup kedalam hidung ku, lalu mataku yang dibuat perih kemudian. Karena tak suka minum obat, setiap kali sakit kepala ataupun sakit perut, yang kuminta pun hanya minyak kapak hingga membuatku jadi ketagihan untuk terus memakainya. 
 Saat kupakai di rumah, kakak dan orangtuaku tak pernah menggubris bau khas yang dikeluarkan si minyak. Tapi, itu sungguh beda saat kupakai di luar rumah. Tentu saja! Keluarga bagaimanapun selalu maklum bukan? Dan orang lain selalu ingin dihormati dan dihargai keberadaannya. Minyak kapak, minyak yang selalu diidentikkan dengan bau balsem atau minyak gosok orang tua. Aku masih sangat ingat, kejadian di kampus saat proses perkuliahan salah satu mata kuliahku. Saat itu, kepalaku memang agak pusing. Aku mengeluarkan selembar tisu dari tas, tak ketinggalan si minyak ajaib yang selalu ada kemana aku pergi. Aku membuka tutup botol si minyak kemudian, lalu kutaburi beberapa tetes ke atas permukaan tisu untuk kuhirup baunya. Tak lama berselang, teman yang duduk di bangku ke tiga dari bangkuku menggerutu pelan. 
"Siapa yang bau nenek- nenek ini? ", sambil mencoba untuk menutup hidungnya. 
Aku yang mendengarnya sontak merasa tersinggung, bahwa bau khas yang dimaksud berasal dari bau minyak kapakku. Setelah perkuliahan usai, aku memberitahu dia, salah satu temanku itu bahwa itu adalah saya dam meminta maaf kemudian. Seperti keluarga, teman2 kelas ku dikampus, pun kami telah membentuk satu keluarga baru. Lama-lama mereka pun maklum akan kebiasaan ku itu. Mereka tak lagi menggubris merasa iilfeel, atau tak kerasan jika kupakai di kelas, meskipun celotehan mereka untukku tak pernah bisa hilang. Iyah, saat kupakai lagi atau melihatku melakukan ritual menaburi minyak kapak keatas tisu, mereka akan meledek, seraya menutup hidung dan tertawa cengengesan lalu berkata 
"Bau nenek-nenek keluar lagi! ", lalu tertawa terbahak-bahak. 
 Bagi sahabatku, kebiasaanku menghirup bau minyak kapak membuatku di sebut sebagai pecandu narkoba. Mendengarnya mengatakan itu, aku malah terpingkal-pingkal tertawa sejadi- jadinya. Dia pernah menanyaiku kemudian, apa yang aku rasakan saat menghisap bau minyak kapak yang bahkan baginya malah membuatnya pusing. Aku memikirkan hal itu juga. Tapi aku tak bisa menemukan jawaban, selain mengatakan bahwa aku suka baunya. saat melihatku, melakukan ritual, ia akan meledek sejadinya 
"Hirup terus, hisap lagi sabu-sabunya!", sambil tertawa dan geleng-geleng kepala. 
_yiypak-28juli2017
#basabasistore #penerbitdivapress #7haritantanganmenulis

Komentar

Postingan Populer