adakah masa depan?
Aku tersentak, memutar otak, menelusuri kehidupan masa silam yang telah kujalani dan peristiwa peristiwa yang telah abadi tertuang dalam wadah sejarah. Belum ku utarakan sebabnya! Sepertinya aku tak benar benar membayangkan setiap detail peristiwa sejarah itu di memori otakku yang terbatas ini, tapi aku memahaminya, mengerti dengn indera perasa dan mengaitkannya dengan serpihan serpihan memori yang kuketahui, kukawinkan dengan apa yang telah dikatakan seorang NIETZSCHE dalam bukunya tertuang menjadi kritik dalam perenungan jiwa nya semasa hidup
'Kami penerbang ruh', bahwa kehidupan ini, argumen kehidupan ini adalah sebuah kesalahan- bahwa ke tidak berhinggaan ini telah menghancurkan nasib (seorang yang ia sebut) kami', awalnya ia memang skeptis terhadap berbagai hal, hingga sikap skeptisnya itu berujung pada nihilisme yang begitu kuat membawa setiap denyut denyut pemikiran dalam karyanya begitu kuat, dan sangat kuat.
Aku sesungguhnya tak paham betul apa kaitan pernyataan NIETZSCHE ini dengan yang hendak aku kemukakan hingga memaksaku menyelam jauh ke kejadian masa lampau.
Iya, apa yang aku pikirkan, sesungguhnya adalah bahwa "tak ada yang betul betul mampu disebut masa depan dikehidupan ini. Kita hidup menjalani setiap aktifitas, membunuh waktu hingga datang waktu layaknya waktu kemarin dengan kejadian yang tak sama namun rutinitas yang hampir tak ada beda. Kita hanyalah menjalani - menjalani sebuah cerita dongeng terbesar dan fiksi terhebat sejagat Raya-telah ditetapkan memang akan seperti itu adanya kita.
Lalu, logika ku terusik dengan pertanyaan yang timbul seolah menyanggah bibit bibit skeptia yang hendak ku mulai ini, "lalu, bagaiman dengan kita yang diberi hak untuk mampu mengubah takdir? Dengan kata lain, kita mampu mengubah jalan hidup yang ingin kita jalani! maka kita tidak hanya menjalani apa yang sudah dituliskan dalam dongeng begitu saja bukan?
Argumen ini, pertanyaan ini begitu ingin menyanggah pikiran konyol skeptis yang hinggap tiba-tiba bersarang diotak. Aku ingin menepis nihilisme seperti nietzsche. Namun, semakin aku memikirkannya, semakin bertambah kekuatan untuk mempertahankan sikap skeptis diriku.
Iyah! Jika masih beriman maka kita harus percaya pada takdir, qada dan qadar yang sudah ditetapkan. Manusia mampu mengubah takdirnya, mampu mengubah jalan hidupnya. Tapi bukankah kita hanyalaah sebuah tokoh karakter dalam cerita fiksi terbesar? Perubahan yang kita rasakan, tentu saja hanya ilusi waktu, lantaran perubahan yang kita rasakan sendirinya telah dituliskan dalam babak perjalanan kita lewat ide dan pemikiran Sang Penulis Agung. Maka, bukankah sesungguhnya tidak ada yang berubah? Penulis sendiri tahu betul segalanya apa yang Ia tuliskan dan ceritakan tak terkecuali perubahan takdir yang kita rasakan sebab ilusi Ruang dan waktu.
Maka kukatakan, "tak ada masa depan! Kita hanya menjalani sebuah rangkaian kejadian yang telah ada sebelumnya, telah tertulis sebelum jasmani kita sendiri diciptakan. Aku sungguh yakin akan hal ini. Mengapa tidak? Bukankah kita akan berakhir dengan kebinasaan kematian? Kematian adalah akhir dari rangkaian perjalanan yang sudah tertulis itu. Dan aku akhirnya, pada akhirnya betul2 menjadi skeptis terhadap kehidupan"
July,30 2016- yiyaDes


Komentar
Posting Komentar