lonely
from my own library
Kesepian. Sebuah
kata benda berasal dari sifat dan menyipatinya, yaitu sepi. Manusia mana yang
tak tahu arti kata yang membacanya saja raut sedih dan menyedihkan akan
langsung Nampak darinya. Setiap diri yang bernama manusia aku bertaruh
setidaknya dalam hidupnya pernah beberapa kali terjerat dalam suasana ini,
entah dia adalah manusia paling ramah bahkan paling popular pertemanannya
sekalipun.
Aku sendiri,
sudah tak terhitung berapa kali dijadikan persinggahan olehnya. Menariknya, aku
tidak benar- benar paham ada apa dan mengapa diriku dihinggapi olehnya, dan
bagaimana ia menjelma dalam diriku. Dan anehnya, perihal dia, aku tak pernah
membaginya dengan orang lain, bahkan sahabat sekalipun. Aku dan kesepian itu,
saling diam tapi gelisah. Saling tahu, tapi bingung. saling melihat, tapi buta.
Makanya aku dan dia, meski dari lubuk hati yang paling dalam tak ingin bertemu
dengannya, tetap saja kesepian itu datang menjelma.
Seperti hari
ini, hari- hari dimana ia datang dan bagaimana ia menjelma dalam diriku. Sekalipun
tak bisa ku utarakan. Aku hanya menyebut dan menceritakan kesepian ini, dengan
dirinya sendiri, yaitu sepi. Sedangkan apa, mengapa dan bagaimana aku kesepian
tak bisa benar- benar kuceritakan. Aku menganggap bahwa kesepian ini, benar-
benar menarik meski sebenarnya menyedihkan.
Aku jadi teringat pada sebuah buku yang pernah
kubaca, judulnya “Hujan Matahari” yang ditulis oleh seseorang bernama
#KurniawanGunadi. Salah satu bab dalam buku ini diberi judul SEPI. Dalam tulisan
itu, ia berkata bahwa
“Setiap manusia adalah kekosongan, mereka saling mengisi satu sama lain.
meskipun seseorang terlihat ceria dan berparas cerah dikala bersama, tidak seorangpun
tahu bagaimana dirinya saat sendiri, mengalami kesendirian.
Di waktu dia sendirian duduk di dalam kamar, sendiri
sewaktu menunggu bus yang tak kunjung
datang, malam hari yang sepi, sendiri
waktu berada ditengah keramaian.
Setiap orang adalah kesepian. Menutupi
kesepiannya dengan berjumpa teman dekat serta kerabat. Kesepian yang tidak bisa
hilang dikala malam datang, dikala waktu sendiri datang. Manusia selalu mencari
cara untuk membunuh kesepian. Entah dengan bercanda atau bicara di dunia maya.
Tulisan adalah kata kata kesepian. Suara yang
tidak keluar dan didengar siapappun. Berbicara dengan diri sendiri atau mungkin
mendengarkan diri sendiri. Kesepian adalah keniscayaan.
Ketika lahir seorang diri, matipun seorang
dri. Sama sama hidup di alam yang gelap seorang diri. kesepian ketika orang
orang dekat pergi, ketika waktu kebersamaan telah habis, dan ketika matahari
tenggelam setiap hari.
Orang orang yang terbiasa dengan sepi akan
jatuh cinta pada kesepian. Menyukai waktu waktu tidak diganggu orang, menyukai
perasaannya yang menjadi sendu, dan kesepian itu pun menjadi candu. Agak
mengherankan memang ketika seseorang begitu menikmati kesepian.
Laki laki yang terlihat begitu gagah pun sejatinya
adalah makhluk yang kesepian, perempuan setegar apapun juga makhluk yang
kesepian. Kesepian yang hidup didalm hatinya kekosongan yang tak kunjung
terisi.
Ku bertanya pada orang yang berlalu laalang,
“dengan apa mengisi kosong?” dengan apa membunnuh sepi?
Orang- orang menjawab dengan orang lain
Aku menjawab, aku tidak suka orang lain masuk
kedalam hidupku
Mereka menjawab lagi, jika begitu, jadikan dia tidak
lagi sebagai orang lain dalam hidupmu......”
Begitulah salah
seorang penulis mendeskripsikan kesepian dengan menyamainya kekosongan. Tapi aku,
melihat sepi dan kosong adalah dua hal yang berbeda. Ketika kesepian menjelma,
fikiran sederhananya dilabeli kosong, tapi apakah benar- benar kosong? Sembari perasaan
dan emosi begitu penuh hingga tak tahu harus meluapkannya dengan cara apa. Itulah
kesepian ku yang sedikit berbeda dengan si penulis ini. Meski berbeda aku tetap
menyukai pemikirannya. Setidaknya tulisannya mampu menemani kesepianku saat ini
meski aku tidak sedang dalam keadaan kosong.

Komentar
Posting Komentar