someone I miss so much
|
Apa yang harus kutuliskan disini? Melihat gambarmu saja sudah membuat mata ini basah seketika. Mengenangmu seperti ini pada hari ini bukanlah hal yang menyenangkan untukku, akan tetapi apalah dayaku? Perasaan rindu pada sosokmu yang sudah setahun tak bersama kami, aku tak tahu dengan cara apa lagi meluapkannya selain pada tulisan ini.
“ayah, bagaimana kabarmu di
sana?”. Hari ini 12 syawal 1441 Hijriah tepat dirimu berpulang menghadap
kembali pada Sang Khalik. Dari lubuk hati yang paling dalam disertai ketulusan,
kami mengirimkan do’a untukmu setiap saat dalam shalat semoga Allah Subhana Wa
Ta’ala menempatkanmu pada tempat terbaik disisiNya dan semoga kita dipertemukan
kembali beserta dengan kekasihNYA, Rasulullah Muhammad Sallallahu ‘Alaihi
Wasallam, salam dan shalawat beserta beliau!
**
Begitu banyak kenangan
tentangnya ingin kucurahkan di atas tulisan ini. namun, meski menyakitkan aku
akan memulainya dengan ini terlebih dahulu. Tepat setahun lalu, di ruang UGD Rumah Sakit
Umum Daerah Polewali, beliau menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya. Matanya
kini tak akan bisa lagi kutatap, suaranya yang memang jarang terdengar lantaran
dia adalah seorang yang sabar tak akan bisa lagi kudengar, apalagi sosoknya
yang menjadi orang paling tinggi di keluarga setelah aku tiba- tiba hanya
terbaring kaku di ranjang rumah sakit dengan berbagai peralatan medis yang
teramat sangat mencabik- cabik seluruh bagian diri ini melihatnya- bukan hanya aku, tapi
ibu, kedua kakakku, dan keluarga yang ada hari itu. Pagi menjelang siang hari
itu di rumah sakit adalah kepedihan yang tak sanggup dibayangkan untuk kami
menangis dalam diam- menahan diri menyadari bahwa tak baik menangis terisak-
isak dan keras untuk sebuah kepulangan kembali keasal.
Berkali- kali diberi sakit
keras hingga mengharuskannya 3kali melakukan rontgen paru membuat kami merasa
bahwa ayah telah begitu sangat kesakitan selama hidupnya hingga yaahhh tak
pernah disangka takdir yang telah dituliskan Tuhan di Lauh Mahfuz untuknya
ternyata datang di hari Minggu menjelang siang bulan ke-12 syawal 1440 hijriah,
tepat di bulan ke-16 Juni 2019 lalu. sejak saat itu, aku telah menjadi yatim.
Sehari- dua hari hingga 14
hari kepulangannya pada Sang Khalik, tak usah bertanya bagaimana air mata ini
terus saja mengalir secara tiba- tiba. Sampai detik inipun begitu, meski tak
sesakit sebelumnya. Kesadaran penuh atas kenyataan ditinggalkan olehnya adalah
hal yang amat membuatku syok. Di samping karena rasa sayang kami terlebih aku memiliki
impian untuknya juga kepada ibuku dan kepulangannya yang telah ditakdirkan hari
itu, membuatku semacam dibebani penyesalan (penyesalan ini biar kusimpan
untukku sendiri saja), dan jujur saja aku tidak siap ditinggalkan olehnya tepat
di saat- saat aku masih di posisi saat itu. Bagaimana dengan hari ini, setelah
setahun berlalu tanpa dirinya disekitar kami? Mata sembap sebenarnya sudah
sedikit berkurang, meski jika melihat potret dirinya dan sekelibat kenangan
yang muncul sekenanya akan memberi sensasi emosional yang tiba- tiba dan
kembali lagi mata berlinang- linang tidak terhindar. Aku masih sering melihat
ibu, akan murung lalu menangis tiba- tiba bersamaan dengan bibirnya yang
kembali menyebut satu per satu kenangan bersama ayah, kekasih satu- satunya. Jika
sudah begitu, ibu akan segera menutup ceritanya dengan mengatakan,
“jika
bukan kesadaran bahwa kita juga suasa saat nanti akan berpulang, maka kepedihan
ditinggalkan ini tidak akan bisa dibendung”.
Begitulah kira- kira beliau
berguman. Lalu suatu waktu akan mengungkapkan perasaannya seperti ini,
“sosoknya tidak bisa benar- benar hilang dan
dilupakan”.
Iyah! Itu disebabkan karena
kenangan, tersimpan berpuluh- puluh tahun lamanya. Maka aku berterima kasih
pada Tuhan yang memiliki kesempurnaan menciptakan alam semesta ini, bahwa Dia
telah menciptakan sesuatu bernama “Waktu”. Setelah ditinggalkan oleh ayah, aku
menjadi sangat sadar akan salah satu fungsinya- untuk menyembuhkan luka dan
menyamarkan sedikit demi sedikit kenangan bersamaan dengan lamanya ia berlalu,
masa demi masa. Meskipun aku sadar, kepedihan tidak serta merta akan berhenti
begitu saja, setidaknya ia membantu mengatasi ketergantungan kenangan dan
mengurangi kesedihan akan hal itu untuk bersikap lebih bijaksana dalam menerima
kenyataan dan takdir Tuhan.
Kematian
Misterimu tak terbantahkan
Kedatanganmu tak terbaca
Manusia sesempurna apapun
Tak luput dari pelukanmu
Bagaimana kau tampakkan dirimu
Pada setiap manusia sungguh bukan hal yang mampu ditebak
Warnamu samar
Di mataku kau bagai kegelapan
Di benakku kau seolah jalan cahaya
Memahamimu menumbuhkan ketakutan
Menjadi jembatan pulang tanpa jalan kembali
Setahun lalu, selamat bertemu dengan ayahku…..
.
.
sudah setahun dan akan terus bertambah hari
aku tak bisa lagi melihatnya dalam nyata
aku sangat sadar akan hal itu
memandangnya dalam frame tak memuaskan kerinduan
mencarinya dalam lembar- lembar kenangan di memori hanya membuat sedih merana
aku menginginkannya sedikit nyata meski samar dalam mimpi pun juga tak mengapa.
.
aku benar- benar memimpimpikannya. tapi setelah terbangun bukan lega yang kurasa lantaran telah bertemu dengan ayah dan mendengar suaranya, tangisku malah tumpah ruah, sebab apa yang di sampaikannya padaku dalam mimpi itu. aku masih sangat ingat. hari itu adalah hari ke-14 kepulangannya. do'a 14hari perkabungan telah selesai di lakukan, rumah telah kembali sedia kala dalam tatanannya, dan untuk ini aku mengubah semua posisi furniture di rumah untuk sedikit mengurangi kepedihan agar tak terlalu terbayang- bayang sosoknya di rumah. setelah berberes, setelah maghrib menuju isya, aku sedikit kelelahan dan tak sadar tertidur. dalam tidur itulah aku dipertemukan oleh ayah kembali, aku melihatnya keluar dari kamarnya dengan pakaian lengkap seperti akan berangkat kemasjid untuk shalat- dengan sarung dan batik lengan panjang warna biru yang selalu ia kenakan juga sajadah yang sengaja disampirkan di atas pundaknya- ini adalah kebiasaannya. ia kemudia berjalan mendekati pintu depan rumah seraya berkata padaku
"masriah, jangan lupa shalat".πππππππππππ
bayangkan saja! meski sosoknya sudah tak ada lagi di dunia ini, beliau dengan izin Sang Khalik masih mendatangiku bahkan dalam mimpipun beliau tetap menyayomi, menasehati, dan mengingatkan putri bungsunya sesuatu yang amat sangat berharga- yang aku yakin beliau tidak pernah meninggalkan satu waktupun shalatnya sejauh apa yang aku bisa mengingat. Al-fatihah untukmu ayahku tercintaπ
.
Cerita tentang ayah, tidak
akan berhenti sampai di sini.

Komentar
Posting Komentar