Review "Dunia Sophie" Novel by Jostein Gaarder
BEFORE READING
Well, pertama- tama pengen cerita dulu awal banget kenal dengan novel ini. Itu sekitar beberapa belas tahun lalu saat novel ini sampulnya masih merah - putih seperti di atas. Waktu itu aku masih duduk di bangku SMP. Ketemu buku ini juga teramat sangat kebetulan. Di rumah seorang tetangga yang waktu itu si kakak tetangga sudah kuliah. Dia mengajak saya dan ponakan saya menginap, menemaninya di rumah karena hari itu si kakaknya sendirian ditinggal pergi anggota keluarganya; karena menghadiri acara. Entahlah!. Intinya, sejak pertemuan ku pertama kali dengan novel ini, aku sudah tahu beberapa lembar isinya akan ada pertanyaan mengenai "siapakah kamu?", "Dari mana datangnya dunia?". Pertanyaan ini jelas punya pengaruh meski sedikit pada pemikiran ku saat itu. Meskipun masih bocah belia, kegemaran ku membaca menambah penasaran ku atas pertanyaan itu, meskipun tidak banyak yang berubah dan bisa kupikirkan mengenai itu. Intinya mendapatkan novel ini di usia SMP meskipun tidak membaca begitu banyak isinya, memberiku satu langkah maju ke depan dalam hal pemikiran. Pertanyaan ini terus terngiang- ngiang ditelinga hingga pertanyaan itu tenggelam dengan sendirinya seiring aku tumbuh makin dewasa dan menjadi seorang mahasiswi.
Well, pertama- tama pengen cerita dulu awal banget kenal dengan novel ini. Itu sekitar beberapa belas tahun lalu saat novel ini sampulnya masih merah - putih seperti di atas. Waktu itu aku masih duduk di bangku SMP. Ketemu buku ini juga teramat sangat kebetulan. Di rumah seorang tetangga yang waktu itu si kakak tetangga sudah kuliah. Dia mengajak saya dan ponakan saya menginap, menemaninya di rumah karena hari itu si kakaknya sendirian ditinggal pergi anggota keluarganya; karena menghadiri acara. Entahlah!. Intinya, sejak pertemuan ku pertama kali dengan novel ini, aku sudah tahu beberapa lembar isinya akan ada pertanyaan mengenai "siapakah kamu?", "Dari mana datangnya dunia?". Pertanyaan ini jelas punya pengaruh meski sedikit pada pemikiran ku saat itu. Meskipun masih bocah belia, kegemaran ku membaca menambah penasaran ku atas pertanyaan itu, meskipun tidak banyak yang berubah dan bisa kupikirkan mengenai itu. Intinya mendapatkan novel ini di usia SMP meskipun tidak membaca begitu banyak isinya, memberiku satu langkah maju ke depan dalam hal pemikiran. Pertanyaan ini terus terngiang- ngiang ditelinga hingga pertanyaan itu tenggelam dengan sendirinya seiring aku tumbuh makin dewasa dan menjadi seorang mahasiswi.
Aku lulus SMA dan Puji Syukur bisa melanjutkan pendidikan ke kota. Kuliah di kota dengan seabrek organisasi, tak disangka akan mempertemukan aku kedua kalinya dengan novel ini. Disitu juga lah aku baru tahu bahwa novel itu bukan sebuah novel biasa pada umumnya yang berkisah mengenai karakter fiksi namun lebih jauh ternyata mengandung sebuah ilmu bernama Filsafat, dan aku mempelajari ini sebagai mata kuliah waktu itu.
Pertemuan kedua dengan novel ini, di sinilah aku memilikinya sendiri sebagai salah satu buku di perpustakaan mungilku. Mengenalnya membawaku makin mengenal lebih banyak saudara-saudaranya dan aku bisa katakan bahwa aku penggemar penulisnya. Hampir semua novelnya sesuai dengan minat bacaan ku.
DURING THE READING PROCESS
Membaca novel ini, aku analogikan isinya dengan gambar kedua di atas. Kupu- kupu yang tersamar pada kabut biru keunguan anggap saja mewakili fantasi dalam buku ini, dan secangkir kopi di sisi lain katakanlah perwakilan dari realitas mengenai pelajaran filsafat yang ada dalam novel ini. Ditulis dengan sesederhana mungkin oleh penulis membaur di dalam jalinan cerita dengan setiap analogi dan contoh melalui karakter utama si gadis belia Sophie dan sang filosof misterius Alberto. Tapi, kata 'sederhana' sepertinya tidak akan nampak saat berbicara mengenai filsafat.
Siapakah kamu? Well,
AFTER READING
Apakah cukup menjelaskan dirimu dengan sebutan yang sekarang melekat padamu?, misalnya, aku adalah masriah. Bagaimana jika aku tidak dinamai masriah, apakah aku akan tetap aku yang sekarang? Atau akan berbeda? Haha lucu yah ๐ฐ๐ญ๐
.
Apakah kamu memilih dirimu yang sekarang, dengan nama, penampilan, keadaan dan kepribadian yang melekat padamu? Gak sih. Bebrapa adalah keniscayaan pemberian, dan lainnya adalah hasil bentukan, dan kupikir kita tidak secara total membentuk diri kita, meskipun ada kehendak bebas, tapi ujung ujungnya saya akan mentok pada pemahaman bahwa pembentukan diriku yang mewujud atas kehendak bebas ku tidak terlepas dari satu campur tangan yang memberi kehendak bebas tersebut๐คญ. Terus bebasnya di mana? Bingung yah? Iyah aku juga ๐
๐ญ๐ฐ
.......
Beginilah sekelebat pikiranku beradu saat membaca novel ini.
Mari kita bicara mengenai alur novelnya dulu. Jalinan ceritanya runut, dimulai dari saat pertama kali Sophie mendapatkan sebuah surat misterius hingga sampai akhirnya Sophie bertemu dengan Alberto dan akhirnya Sang Mayor. Meski jalinan ceritanya runut, tapi di tengah cerita, PLOT-TWIST nya akan membuat siapapun yang membaca novel ini pertama kali- tanpa pernah membaca reviewnya terlebih dahulu akan kaget. Plot twist yang disajikan dalam novel ini seketika membuat aku teringat pada sebuah drama Korea "Extraordinary You (2019". Selain plot-twist ini, ceritanya dibalut fantasi. Mirip sebuah novel anak yang pernah aku baca juga " Petualangan Detektif Dongeng, karya Michael Buckley", if you ever read that, kamu pasti bisa relate sih!. Well, halamannya lumayan, +700. Kalo kamu suka bacaan dengan tema yang ringan dan bisa dibaca sekali duduk, aku saranin buat pikir pikir dulu untuk memilih buku ini. Tapi, jika kamu adalah orang yang tidak hanya ingin bertamasya dengan membaca tapi juga ingin menambah insight dan wawasan plus pengen latihan ber dialektika dengan pemikiran dan keyakinan yang kamu pegang sendiri selama ini, novel ini sangat cocok untukmu.
Quote- nya, lumayan banyak yang bisa diambil menjadi pelajaran (beberapa ku tampilkan di akun instagram sebagai feed penyerta review singkat novel ini di sana), tidak hanya sekadar kalimat quotable, dan yah, setiap halaman menyuguhkan quote, dan tentu saja quote ini tidak terlepas dari percikan gagasan setiap filosof yang tengah dibahas dihalaman itu.
.......... AFTER READING
Setelah membaca habis novel ini, dan kamu menjadi orang yang sedikit sering diam dan pikiranmu tiada hentinya berfikir ke sana- ke mari, maka selamat!!! Kita sama. Buku yang bagus, adalah buku yang sedikit-banyak menyumbang perkembangan pemikiran ataupun pemahaman kita, tentang hidup utamanya. Ini menurut aku pribadi yah. Semisal pemikiran tentang menjadi seorang bayang- bayang dari penulis (Katakanlah "pencipta kita"). Yah, Manusia diibaratkan, adalah bayang- bayang sang Pencipta di sebuah wadah bulat bernama dunia. Apa yang kita lalui sebenarnya hanyalah serangkaian tulisan- tulisan yang telah disiapkan di tiap halaman, dan kita sekarang ini adalah bagaimana kita berada saat pembaca tengah membaca kita (aku tak tahu kepada siapa pembaca ini mesti ku analogikan, katakanlah saja, malaikat). Saat pembaca berpindah ke halaman selanjutnya maka, berpindah juga kehidupan (takdir kita) di dunia kita. Lalu di mana kehendak bebas yang pertama kali ku singgung sebelumnya? Yah, kamu tahukan bahwa penulis bisa saja mengubah ide ceritanya semau yang dia inginkan? Bukan kah begitu?
Intinya, sebagai bayang - bayang, apa yang kita ketahui sangatlah terbatas. Secerdas- cerdasnya bayang- bayang, tetap saja terbatas di hadapan penulisnya (PenciptaNYA). Tapi dalam proses menjadi bayang- bayang itu, kita tidak boleh lupa bahwa setiap kita adalah anak dari zaman kita masing- masing.
Sebenarnya masih banyak lagi pemikiran yang bisa kupetik dari novel ini, hanya saja biarlah menjadi pemikiran yang tersimpan secara pribadi dan kupahami seorang diri.
#selamatmembaca #duniasophie
#selamatmembaca #duniasophie


Komentar
Posting Komentar