Hujanku dimasa kecil

Sedari siang tadi,aku sudah memantau rintik rintiknya yang turun berjarak- jarak di bawah silauan sinar mentari. Ku menggumam bahwa hari ini pasti hujan. Dan feelingku benar saja. Sore menjelang, rintiknya berubah mewujud hujan yang lebat. Satu hal yang kusuka dari hujan bahwa ia mampu membawaku melintasi ruang waktu bertemu dengan masa lalu. Berada dirumah saat saat turun hujan seperti ini, membuat kenangan yang terlintas dimemorikupun tentang masa kecilku bersama teman sepermainan dan hal- Hal yang kami lakukan dikala hujan waktu itu.
Sewaktu kecil,kurasa hingga saat ini, hujan adalah saat yang paling ku nanti. Betapa tidak! Aku seperti halnya anak- anak seusiaku kala itu, begitu antusias ingin merasakan bagaimana rasanya bermain hujan- berlarian di tengah jalan- berdiri mematung di bawah corong penampung air hujan atap rumah hanya untuk merasakan tumpahan air hujan yang besar menimpa ubun- ubun kepala dengan kerasnya. 
Awalnya, ibu tak pernah mengizinkan ku untuk bermain main hujan. Katanya, aku adalah anak yang gampang sekali sakit. Dua- tiga- hingga lima kali meminta aku tetap tak diberi izin. Hal itu membuat rasa ingin tahu ku semakin besar. Jika hujan turun, aku akan segera keteras rumah memandangi temanku yang begitu asik berlari- larian di tengah guyuran hujan dan diriku hanya bisa merentangkan tangan di bawah lekukan - lekukan seng atap rumah untuk merasakan sensasi air hujan.
Sekali waktu, unna,seorang teman sepermainan yang kuanggap saudara sendiri mengajakku untuk bwrmain- main hujan. Saat itu aku tengah duduk diteras rumah nenekku memandangi aliran- aliran air hujan yang membentuk pola- pola unik di bawah tangga. Aku tak segera mengiyakan. Aku takut jika nanti orang tuaku tahu aku pergi bermain hujan dan menghukumku sepulang nanti. Namun, rasa ingin tahu ku ini tak dapat kubendung lagi. Aku memberanikan diri dan ikut bersama kak unna.
Wwah! Sungguh menyenangkan! Pengalaman pertama yang begitu kuidamkan. Berada dibawah guyuran air hujan memang punya kesan tersendiri. Berlari hingga kemasjid- bersemedi dibawah .menara- hingga saling melempar air kemuka begitu menyenangkan.
Hujan hampir reda. Aku kembali ke rumah tapi bukan rumahku. Aku pulang kerumah nenek dan cepat- cepat saja kuganti pakaian yang sudah basah kuyup itu dengan sarung. Akupun menuju ke kamar tidur nenek dan beringsut diatas ranjang bersama nya dengan sepupuku yang lain.
Hal lain yang terlintas dimemoriku saat ini adalah ketika teras belakang rumah telah jadi dibuat. Ibu sengaja membuatnya sebagai tempat pengering kayu bakar, sabut, dan tepung beras untuk membuat kue. Makanya teras itu dibiarkan saja terbuka tak diberi atap. Sekali waktu, ibu mengeringkan sabutnya yang lembab ditwras belakang. Namun saat sore menjelang tiba- tiba saja turun hujan. Aku dan kakak disuruh untuk mengangkat segera sabut itu dan mengumpulkannya kedalam karung. Namun, karena begitu banyaknya dam kami hanya berdua, hujan pun terlanjut lebat membuat beberapa sabut tak sempat kami selamatkan.  Tiba- tiba saja, aku punya ide brilian. Aku mengambil dua sabut itu dan kuinjak dibawah kakiku.bagian yang berserabut kubiarkan diatas menyentuh kulit kakiku dan bagian licinnya kubiarkan menyentuh kayu teras dan akupun berseluncur seolah- olah sedang bermain sepatu roda dibawah guyuran hujan. Haha.. kakakku terheran- heran melihat tingkah konyolku itu, meski begitu kakinya gatal jika tak meniru apa yang kulakukan. Jadilah kami berdua bermain hujan sambil bersepatu roda. Ibu sudah mengijinknku saat itu apalagi kuktakan bahwa aku sekalian ingin mandi, yah! Tak ayal, aku memang benar- benar mandi buktinya bahwa saat itu aku betul betul menyabuni tubuhku dan mengguyur badanku dengan air pancuran untuk millombos.. hahaha...
Jika ku ingat lagi kejadian kejadian ini, ada hal yang patut ku jadikan pelajaran bermakna. Bahwa pengalaman pertama akan selalu berkesan untuk diingat dan yah, masa anak- anak adalah pintunya keingintahuan bahkan ingin tahu yang besar akan sesuatu hal yang baru. Pengalaman ku dengan ibuku di atas membuka mataku bahwa seorang anak dalam masa pertumbuhan diusiaku diatas, tak patut untuk selalu dicegah melakukan hal hal yang baru. Hal itu dapat mematikan rasa keberanian, percaya diri, dan semangatnya. Membuatnya penakut dan minder terutama jika berhadapan dengan hal hal yang baru. 
Syukurku tiada henti. Dikala sore turun hujan ini, Tuhan memberiku kesempatan bernostalgia kemasalalu dan membawa pelajaran bermakna untukku dimasa depan! Aku mengagumi itu... 🙏

Komentar

Postingan Populer