Rasisme pagi hari
Int_
Pagiku hari ini disambut oleh suara shalawat dari masjid didesa sebelah. Masjid yang begitu megah dan terkenal akan mukjizat ditambah pendiri masjid itu dahulu kala adalah seorang guru besar, Imam Lapeo. Aku masih beringsut diatas kasur, subuh yang dingin menambah kemalasanku untuk segera beranjak. Kubuka mata perlahan dan melihat kejendela disamping kasur ku, masih gelap. Tapi ibu dan ayah sudah ribut di dapur lantaran kehebohan berita si Mirna yang mati diracun; Rio haryanto pembalap indonesia pertama yang akan melaju keF1; dan, baru baru ini penyanyi saiful jamil yang ditahan lantaran mencabuli bocah dibawah umur. Ibu dan ayah sudah seperti komentator saja. Mereka saling mengutarakan pendapat. Apalagi jika menyangkut kasus pembunuhan si Mirna, yang hingga saat ini polisi begitu plin plan, belum juga menetapkan pelaku sebenarnya, hari ini si jessica, besoknya bapaknya Mirna, entah besok lusa siapa lagi. Pemberitaan yang plinplan itu membuat ayah dan ibu greget dan membuat mereka tiba tiba menjelma komentator handal.
Aku masih diatas kasur. Berencana untuk pulsa kembali tak bisa lagi kulakukan lantaran suara mereka yang begitu heboh hingga ke kamar tidur ku. Aku bangun juga, meski agak malas. Dalam keadaan masih setengah sadar, dalam hati aku menggumam bangga. Diusia mereka yang makin senja, bukannya suka nonton sinetron, malah rajin mengikuti perkembangan dunia melalui berita. Maklumlah! Didesa ini, bukan hanya remajanya saja yang seolah disihir oleh tontonan tontonan tak bermutu sinetron, yang hanya mengandalkan cerita pacar pacaran, tapi juga orang dewasa bahkan orang lanjut usia.
***
usai menunaikan kewajiban pagi ini, aku duduk sejenak menikmati pisang goreng di meja makan dengan tv yang masih menyala. Hampir di semua berita pagi stasiun tv, tentang Rio Haryanto dan Saiful Jamil. Aku mengambil remot, memilah program apa yang seru dipagi ini. Tak lama, jariku berhenti pada salah satu program dakwah islam di salah satu stasiun tv. Meski bukan hal yang baru lagi, tapi topik yang diperbincangkan mbuatku enggan untuk mengganti channel.
Rasisme.terlalu kesukuan.cinta suku.
Topik itu, membuatku terhenyak sesaat. Pikiranku melayang pada kenangan saat berbincang dengan salah satu teman, namanya amma... haha.. perbincangan tentang tak ingin menyukai lelaki yang bukan ras sendiri, memperbincangkan senior yang bagaimanapun tetap memilih pacaran dengan satu kampungnya sendiri yang tentu saja satu ras dengannya. Berapapun lelaki yang menyukai amma, tak satupun ia terima lantaran bukan ras sendiri. seperti amma dan senior ku itu, aku pun memiliki naluri itu. Iyah, tak kupungkiri berteman dengan sesuku sendiri tidaklah pernah sama jika berteman dengan suku yang lain. Bukan hanya beda bahasa, lebih dari itu beda suku membuat ideologi dan pandangan hidup kami berbeda pula. Haha sepenggal ceritaku dengan amma tentang kesukuan.
Bagaimana dengan pembahasan topik suku dichannel tadi? Sungguh pengetahuan yang begitu baru untukku. Seorang mengirimkan email pada program itu. Ia menceritakan kisahnya dengan tujuan untuk mendapat solusi atas permasalahannya, tentu saja. Ia berkisah bahwa ia sudah beberapa tahun menikah dengan seorang wanita yang beda suku dengannya, namun sampai saat ini orangtua nya tak merestui dan rak ingin bertemu dengan istri anaknya hanya lantaran tak satu suku dengan mereka. Sipengirim email lalu bertanya, keabsahan pernikahannya dimata Allah dan agama.
aku semakin penasaran. Topik itu berhasil membuatku berhenti melahap pisang goreng dan hanya berfokus menatap layar kaca. Apatah lagi, bisa kukatakan akupun sedikit rasis dan merasa bahwa diriku ikut tersinggung hahaha...
Tak berapa lama berselang, pendakwah pun berbicara "rasisme adalah salah satu pintu dari sekian pintu dimana syaitan berusaha menyesatkan manusia. Ia lalu melantunkan firman Allah dalam surah Al-Hujurat ayat 11 dan 13 untuk memperkuat bahwasanya rasis adalah hal yang dilarang dalam agama kita. Dan bahwasanya si ibu penanya tersebut sungguh berada dalam kekeliruan lantaran tak merestui pernikahan anaknya hanya karena sebuah frase, ' tak sesuku'.
Satu pelajaran lagi pagi ini. Awalnya lantaran ayah ibuku yang sudah ribut dipagi buta, menggiringku untuk menikmati pisang goreng lebih awal didepan tv dan akhirnya aku mendapat pengetahuan baru yang mengharuskanku mengubah sedikit ideologi yang selama ini kupegang. Yahhhh! Terlalu rasis, mengisyaratkan pencelaan dan membuat diri merasa lebih dari mereka yang tak sama dengan kita. Bahkan jika beralih lebih memilih satu suku lantaran memiliki pandangan yang sama adalah kekeliruan yang perlu diluruskan. Bahwasanya, satu imanlah yang harus kita utamakan dalam bergaul dengan sesama kita dan juga kebaikan diri masing masing. Bukanlah nilai nilai kesukuan atau ideologi ras. Isyarat itulah sebenarnya yang berbahaya. Dan tak dipungkiri, masih banyak praktik praktik rasisme diluar sana baik yang terang terangan apalagi yang tersembunyi dibalik cadar...


Komentar
Posting Komentar