Cerita dibawah hujan
Dibawah guyuran hujan membasahi atap rumah, senada dengan bulir bulir air mata menetes dipelupuk mata, dipilukan dengan sosok ayah duduk menunduk pasrah menatap lemah bersandar didaun pintu almari selepas memanggang kue kering.
Siapa yang takkan terguguh hatinya, tersayat rasa sakit jika memandangi sosok lelaki paruh baya yang membanting tulang sekuat yang dia bisa adalah ayah kandungmu sendiri. Tak semampu tatkala diri ini menemukan sosok lelaki tua,atau kakek tua menenteng dagangan dipinggir jalan dengan sengatan terik matahari, dan hati ini entah dari mana ia dapat spontanitas rasa kasihan. Tapi menyadari rasa kasihan itu timbul lantaran memandang sosok ayahmu sendiri, tak mampu diterima pikiran ini. Ada rasa marah bergejolak. Sebagai anak, aku masih nol, tak punya apa apa untuk sekadar mengutarakan padanya
"Pak, tidak usah lagi bekerja begitu berat. Kan sudah ada saya"
**
Aku duduk disampingnya. Memandangi lengan dan betis kurusnya oleh akibat sengatan bara perapian kue setiap hari. Ia menunjuk betisnya yang luka padaku sembari berkata
"Ini luka. Kena pemanggang kue"
Ibu tertawa meledek, menanggapi dengan gurauan jenaka menghangatkan suasana yang menyedihkan itu.
"Pasti mengantuk lagi!"
"Bukan. Tapi ini lenganku yang sebelah sudah tak sekuat yang satunya, apalagi terus menerus mengangkat pemanggang kue. Makanya kena betis. Bagaimana tidak! Sudah berpuluh tahun kerja berat", ayah mengoceh panjang
"Ya, namanya juga kita ini tidak berpunya. Semuanya sudah takdir kita", kata ibu
" ya,alhamdulillah! Meski kerja berat tapi masih ada rejeki disitu. Ada orang meski kerja seberat apapun tetap tak cukup"
Mereka berdua saling tertawa. Berceloteh tentang hidup yang jauh dari suasana nyaman, enak,dan santai, namun mereka tetap menyikapi dengan candaan, membuatku makin merasa bersalah lantaran miris akan keadaanku sendiri belum mampu membuat mereka berhenti membanting tulang, dan hanya membiarkan mereka menikmati hidup ini saja di usia nya ya ga tak lagi muda.
March14016- tomadio

Komentar
Posting Komentar