Ibuku, tapi mengapa begitu tega?
Bagaimana harus kuawali mengungkapkan keadaan ini? Sore yang memilukan, bahkan air mataku tak sanggup terbendung untuk tak keluar. Dari sisi manapun aku melihat, aku tak habis pikir akan ketegaan seorang ibu yang diberitakan oleh salah satu program berita sore ini.
Bagaimana kehidupan yang mesti dijalani, terkadang bukanlah hidup yang diinginkan. Aku pun turut merasakan itu, tapi jika seorang ibu kandung tega meninggalkan anak kandungnya yang masih balita, hingga belasan tahun umur anaknya, bahkan saat sang ayah yang telah meninggal dunia pun, ia masih tega pergi tanpa menyisakan sedikit kasih sayang akan buah hatinya. Ditinggal dibiarkan hanya diasuh oleh kakeknya yang bahkan telah tua renta untuk mengasuh seorang bayi hingga sibalita mengidap gizi buruk akut sampai 17 tahun usianya, tergolek lemah kurus tak berdaya terbungkus kan daging tipis membalut tulang- tulangnya. Aku mungkin lebih memilih untuk tak dilahirkan saja, dibanding harus menjalani hidup merasa dibuang oleh seorang yang bahkan dari dirinya lah kita dititipkan untuk dilahirkan kedua ini.
Aku merasakan gejolak menjalar dari dadaku ke ujung kepala. Aku memasung kerancuan dan kebencian dengan tiba- tiba pada apa yang selama ini para sang bijaksana lontarkan, surga ada di telapak kaki ibu. Haaa! Bagaimana kalimat itu harus menyikapi keadaan memilukan ini? Masihkah ibu semacam itu harus dimuliakan, diletakkan surga di telapak kakinya? Pertanyaan yang terlintas saja dikepala. Bulshit pikirku.
Bukan hanya si anak yang membuat nuraniku terguguh. Kakek tua renta, yang bahkan untuk bicara pun perkataannya sudah tak begitu jelas, mencuri perhatian hatiku. Beliau yang sudah tua begini, harus mengurus balita setahun lantaran si ibu yang hanya seenaknya saja melahirkan tanpa tanggung jawab. Bahkan ada yang lebih tak bertanggung jawab lagi. Para pemerintah setempat yang begitu tak acuh memberikan bantuan. Padahal bukannya tak ada laporan, malah si kakek mencoba meminta uluran bantuan, pun tak diindahkan. Boro- boro diberi bantuan, mereka hanya menuntaskan tugas formal mereka mendata penduduk tanpa perhatian sedikitpun.
Siapa yang mampu mengubah nasib kita? Jika melakukan usaha pun sudah dilakukan, tapi tak ada perubahan maka ikhtiar pun menjadi jalan satu- satunya.
Para penduduk setempat yang masih berhati, tak lepas hati kelewat tega. Mereka menyambangi si kakek sambil memba a makanan sekenanya untuk meringankan beban beliau. Masih ada kepedulian di sekitar kita, meski secuil. Dan para jurnalis dari program berita itu, ku harap ada bantuan yang cukup dari mereka untuk si kakek dan cucunya.
Source news from metrotv.on march 02, 2016.

Komentar
Posting Komentar