Peristiwa Malam Itu!
Aku masih
memandangnya. Memerhatikan dirinya yang terlihat tak waras dari balik jendela
rumah . Dia adalah tetanggaku, Mas Didi, seorang buruh pabrik salah satu
perusahaan di Jakarta. Ia asli jawa, merantau kejakarta bersama istrinya kala
itu, 10 tahun lalu. Ia adalah seorang ramah lagi peduli. Kuingat saat belum
memiliki anak, ia dengan senang hati membawa serta putriku, berangkat pagi-pagi
mengantarnya ke sekolah saat akan berangkat kerja.
Sejak bertetangga
dengannya dan sejak ia dikaruniai buah
hati, baru malam itu, 5 bulan yang lalu, aku mendengar pertengkaran hebat
dengan istrinya. Dibawah guyuran hujan lebat seperti sore tadi. Entah masalah
apa yang tengah menggelayuti biduk rumah tangga mereka. Akupun tak enak hati
berrtanya. Apalagi jika melihat keadaan dirinya yang sekarang, seperti seonggok mayat hidup tak berjiwa, tak berasa.
Masih dibalik jendela.
Aku menerawang memasuki lorong lorong dimemori,
mengulik kenangan malam peristiwa memilukan yang merubah begitu drastis dirinya.
Malam itu, malam ak mendengar suara keras istrinya memaki. Aku berkesimpulan,
ia tengah memaki suaminya sendiri. Samar- samar terdengar Mbak Ika- panggilan akrab istinya, tak ingin
di dikte dan terus memaki, kemudian membentak suaminya untuk tak ikut
campur. Entah ikut campur masalah apa. Lagi- lagi aku tak
sanggup bertanya setelah kejadian itu. Terdengar tangisan sikecil suci, lalu
suara pintu depan terhempas begitu kerasnya. Disusul hujan lebat.
--
Rumah ini, hanya
dinding semen dan setapak tanah yang memisahkan rumah kami. Rumahku adalah yang paling dekat dengan rumah
kontrakan yang ditinggali Mas Didi. Maka wajarlah jika aku mendengar peristiwa
memilukan itu. Peristiwa yang membuatnya
mengerang berteriak saat hujan lebat turun, peristiwa yang merenggut keramahan
diwajah bundarnya, bahkan mengubahnya jadi seolah mayat hidup tak berasa dan
bertingkah seolah tak waras.
setelah malam itu,
beberapa hari kemudian barulah aku tahu bahwa istrinya pergi meninggalkannya
juga meningalkan putri semata wayanngnya. Tak ada pakaiannya yang tersisa. Yang
tersisa dari istrinya hanyalah kenangan dan segerombol bunga mawar merah,
tanaman peliharaan istrinya, berjejer indah dipagar rumah. Kini, mas didi
sendiri mengambil alih merawat dan memelihara bunga mawar itu, tapi anehnya ia siram
sesaat atau disaat hujan turun.
Seperti dua minggu
yang lalu saat turun hujan, atau tiga
hari kemarin, saat hujan pula dan sore ini.
Sore hari ini, hujan sedang lebat-lebatnya, sampai- sampai timbul
banjir. Air menggenangi depan rumah kami
dan seperti biasa dia melakukannya lagi. Aku pikir Mas Didi sedang tak ada
dirumah. Saat melintas dari pasar tadi, tak ada suara suci anaknya
bernyanyi-nyanyi.
Aku kaget. Saat
melihat keluar jendela. ia berdiri
dengan selang mengucur air ditangan
kirinya, terlihat sedang menyirami bunga mawar peninggalan istrinya. Aku
prihatin. Sungguh prihatin atas keadaannya itu. Tetangga kami yang lain sudah
tak kuasa menahan lidah untuk tak menggunjing keadaannya. Berdesir kabar, Mas Didi
sudah hilang akal, lantaran ditinggal istri. Begitulah tetangga mengabarkan
keadaannya.
Aku masih tak habis
pikir dengannya. Disatu sisi, memang kuakui dia seperti orang tak waras
kehilangan akal, namun disisi lain ia masih terlihat normal dan sadar akan
keadaan sekelilingnya. Ia tak pernah mangkir dari berangkat kerja, dan tak lupa
mengantar- jemput putrinya, meski ia tak seramah dulu bahkan hampir bungkam
berubah jadi sosok pendiam yang tak pernah lagi menyapa saat pagi berangkat
kerja. Kewarasan itu kupikir masih dimilikinya. Aku yakin itu, bahkan saat
tingkah gilanya menyiram mawar saat hujan dan parahnya meski saat banjir,
tapi ia masih sadar untuk mengenakan
jaket berpadu dengan jeans biru miliknya yang basah digenangan banjir. Ia membawa serta payung –payung biru milik
istrinya yng tertinggal- ia genggam ditangan kanannya melindungi diri dari
guyuran hujan. Dari balik jendela ini, dalam hati aku berharap ia segera pulih
sedia kala.


Komentar
Posting Komentar