Review of "24 Wajah Billy" Novel
BEFORE READING
Mengawali
ngeriview novel ini, saya ingin bercerita sedikit awal mula bisa mengenal novel
ini. Sebelum perjumpaanku dengannya secara langsung dengan novel ini, itupun
saat membelinya bukan di toko buku, ia memang sudah terngiang- ngiang di otak
beberapa waktu melalui cerita salah satu dosenku; pengampu matkul Post- Colonialism, di mana novel ini
adalah novel yang beliau angkat sebagai objek penelitian tugas akhirnya untuk
menyandang gelar Magister Humaniora. Menyadari novel ini sebagai bahan
penelitian tesis, dipikiranku,
“WOW! Pasti
novel ini lumayan berbobot dan sudah barang tentu menarik”.
Apalagi
mengetahui fakta bahwa dosenku ini memiliki minat pada buku- buku yang tidak
biasa (dan setelah menamatkan novel ini, perkiraan ku sangat tidak keliru).
Mendengar cerita dosenku, juga melihat sampul dari novel ini; iya! Aku sempat searching setelah tahu ada novel yang
ceritanya sangat di luar nalar dan apalagi diangkat dari cerita nyata seperti
ini, semakin menumbuhkan hasratku untuk memiliki novel ini.
“I was dying
for getting this book!”
Ditambah
lagi, saya memang menyukai hal- hal yang menyangkut ranah psikologi dan segala
tetek- bengeknya. Selama ini (sebelum mengenal novel ini), yang banyak beredar
dan saya tahu hanyalah orang dengan dua kepribadian dan seringnya disebut
berkepribadian ganda. Itupun memang sangat jarang ada orang yang mengidap
kelainan mental seperti itu. Namun, pada novel yang satu ini, karakter yang
dikisahkan memiliki kepribadian majemuk yang dimilikinya tak tanggung-
tanggung, melebihi 20 karakter orang yang berbeda- beda; usia, sifat dan
kecenderungan tentu saja, minat, dan bahkan dari mana ia berasal pun berbeda.
Setelah mengetahui novel ini, kebetulan sekali saya saat itu entah dari mana
(saya sudah lupa) memiliki file film
berjudul Sybil di laptopku, dan Sybil ini adalah juga orang dengan kondisi
kelainan kepribadian yang lebih dulu tersorot di Barat sana dan juga adalah
kisah nyata namun tak sekompleks tokoh yang diceritakan dalam novel ini. (dalam
proses menamatkan buku ini, Sybil, sempat disinggung sedikit, dan yang membuat
saya lumayan takjub karena dokter yang menanganinya ternyata terlibat juga
dalam menangani tokoh yang akan dibicarakan dalam novel ini).
DURING THE READING PROCESS
Well, saat proses membaca novel ini pertama-
tama yang bisa saya sampaikan sebagai hasil review adalah sampul, dan blubr yang disajikan memang menumbuhkan
rasa ingin tahu yang besar segila apa kisah yang dimiliki tokoh dalam novel ini
dan ulasan mengenai penulisnya dengan biografi sekental itu akademiknya bisa
dibilang menambah nilai plus, yang bahkan cerita novelnya saja belum disentuh. Setelah
memulai penjelajahan yang lumayan panjang ini; 700 halaman, banyak hal yang
membuat saya penasaran dan malah semakin penasaran semakin saya melahap lembar
demi lembar halamannya.
Mengulik novel ini dari kaca mata
strukturalisme, ceritanya cukup mudah untuk diikuti dan dipahami alurnya,
meskipun plot ceritanya adalah plot campuran. Mungkin karena POV- nya memakai
sudut pandang orang ke-tiga; bisa jadi juga karena gaya penceritanya yang
memang to the point, dan sangat
deskriftif namun tidak kaku, malah menurutku tetap memiliki imajinasinya
sendiri melalui setiap karakter kepribadian si tokoh utama yang silih berganti
muncul dan memiliki ceritanya tersendiri. Meski begitu, membaca novel ini tetap
perlu fokus yang lumayan dalam rangka memahami alur kemunculan setiap karakter
kepribadian si tokoh utama untuk diceritakan. Strugglenya sih disitu dan ini ada di bagian pertama. Jika dibagian
pertama alur sikarakter setiap kepribadian sudah bisa didapat, bagian kedua dan
terakhir itu akan sangat dapat feel
kisahnya; menurut saya sih!.
Well, ceritanya dibagi kedalam tiga Bagian atau
katakanlah Bab.
Bab pertama berisi subbab yang langsung
menyuguhkan tengah cerita menjadi satu konflik di mana si karakter utama; Billy
ditangkap dengan bukti yang kuat sebagai tersangka pemerkosa. Karena ini bab
pertama, meskipun langsung tengah cerita, tetap menyuguhkan pengenalan tentang
tokoh utama beserta karakter- karakter kepribadiannya saat diinterogasi
dipenjara juga saat dirawat dan diobservasi oleh psikolog dan psikiater yang
memang handal dibidangnya, bahkan di bab satu inilah bagaimana Billy dikenali
sebagai orang yang mengidap kelainan psikis dengan kepribadian majemuknya. Ini
pula yang membuat saya berkesimpulan, mengapa penulis mengangkat cerita Billy
dipertengahan kisah hidupnya ini; ketika ditangkap kedua kalinya dan masih
dalam masa pembebasan bersayarat; di mana ini bukan kali pertama ia dijebloskan
kedalam bui, sebagai kisah yang patut diceritakan di bab pertama. Menyelami
bagian pertama ini, di awal- awal, saya sempat berfikir mendalam,
“Benarkah
memang ada hal yang seperti ini di dunia ini?”
Bahkan yang berkepribadian gandapun sebenarnya
saya masih lumayan skeptis.
“Sebenarnya memang adakah kondisi mental yang
mampu sebegitu kacaunya hingga terpecah begitu banyak atau hanya sekadar
kondisi depresi biasa yang seolah- olah diada- adakan dalam diri kita?”
Perasaan di aduk untuk menilai, apakah Billy ini
memang seorang korban yang harus ditolong karena berpenyakit mental atau
seorang penipu yang tengah berdalih. (hingga dibagian ketiga kisah ini, konflik
akan keskeptisan kondisi Billy terus mengambil tempat sebagai alur cerita,
bagaimana petugas kesehatan di mana ia dirawat, juga beberapa penjaga tahanan,
masyarakat, media apalagi, bahkan ada dokter yang tak mengakuinya sebagai orang
dengan kepribadian majemuk). Itu pemikiranku di awal, yang begitu mempertanyakan.
Awalnya yang tersingkap hanyalah 10 kepribadian, namun lambat laun dalam
perawatannya di dua pusat perawatan kesehatan mental yang berbeda, 24
kepribadian dari si tokoh utama itu dikenali. Sempat saya singgung sebelumnya
di atas bahwa di bagian pertama ini tetap ada orientasi tokoh utama. Disebutkan
sedikit bahwa Billy awalnya adalah korban dari pelecehan seksual oleh ayah
tirinya.
Memasuki bagian kedua, dari awal subbab hingga
akhir subbab (yang mana subab akhir dibagian kedua ini menyambung ke alur
cerita di bagian pertama), penulis menghadirkan kisah tokoh utama; Billy secara
runut (yang menurutku, kehidupan Billy sedari bayi sudah tak bahagia dan
menanggung beban; disini tokoh Billy sedikit mulai menyentuh sisi emosional
saya), bagaimana saat ia masih balita hidup dengan ibu dan ayah kandungnya, hidup
serba kekurangan dengan banyaknya tagihan dan utang, lalu ayahnya meninggal
bunuh diri, ibunya mulai berkencan dengan lelaki lain namun ditipu dan kembali
jatuh miskin. Setelah itu diceritakan kehidupannya saat kanak- kanak di mana ia tinggal bersama ayah tiri; di saat
inilah ia mengalami trauma paling membekas dihidupnya oleh pelecehan seksual
yang dilakukan ayah tirinya terhadapnya, dilanjutkan ke masa- masa remaja di
mana ia semakin hari semakin aneh, semakin amnesia, dan Billy merasa semakin
tak mengenal waktu dihidupnya, hingga kehidupan sekolahnya juga semakin kacau
balau oleh hukuman dari guru- gurunya lantaran masalah yang diperbuat oleh
kepribadian lain dituduhkan padanya juga bullyan
dari temannya lantaran sikapnya yang sangat aneh dan tidak biasa, yang pada
akhirnya semua itu membuatnya amat depresi dan ia memutuskan untuk bunuh diri.
Diusianya yang ke- 16 tahun, ia ditidurkan dengan lelap jauh ke dalam bilik pikirannya.
Diusia ini hingga usia dewasa; di mana ia mulai ditangkap untuk kedua kalinya
itulah, orang- orang yang menghuni dirinya silih berganti mengambil kesadaran
dan tempat utama sebagai Billy Milligan. Di bagian ini, proses pergantian
kepribadian muncul di tempat utama adalah hal yang paling menyita perhatian
saya. Sepanjang membacanya yang ada dibenak saya adalah,
“Apakah ini semacam kesurupan ala modern?
Bagaimana mungkin ini?”
Saking detailnya perbedaan tiap- tiap
kepribadian ini. Yang membuat saya kemudian sedikit percaya adalah ketika sang
guru dibahas semakin dalam, meskipun kembali lagi saya sulit mengakuinya atau
bisa jadi logika saya yang tak mampu untuk membuatnya masuk diakal. Saya
menyimpulkan hal berbeda lagi di sini, bahwa jika ini mungkin maka sebenarnya
orang seperti Billy adalah manusia jenius dengan tingkat kecerdasan di atas
rata- rata karena skill- skill yang
dimiliki oleh setiap kepribadian penghuni dirinya sebenarnya adalah
keterampilannya juga; pikirku.
Di bagian akhir dari cerita ini yaitu bagian
ketiga, merupakan lanjutan dari kisah dibagian pertama, di mana proses hukum
padanya sebenarnya belum betul- betul final (masih terus diawasi) dan perawatan
dirinya juga masih terus berjalan di pusat kesehatan mental tersebut. Jika
dibagian pertama saya memiliki sikap yang begitu meragukan perihal kondisi
Billy, di bagian kedua meski sedikit surut pun ragu itu masih ada dan melekat
dalam keyakinanku. Namun dibagian ketiga ini semua sirna dengan paparan yang
begitu empiris. Konflik yang semakin tajam menuju klimaks dari keseluruhan
kisah Billy struggle dengan
keadaannya semakin menyentuh sisi emosional ku. Disini saya sempat menitikkan
air mata. Bukan karena apa. Sedih aja gitu tahu bagaimana kehidupannya saat
kecil, dan remaja, bagaimana susahnya menjadi orang lain setiap saat, dan
dibagian ini semakin dipertajam sisi tersebut bagaimana masyarakat
menghakiminya juga media yang menggoreng terus- terusan (dalam novel ini
terlihat, bagaimana media dengan jurnalismenya bisa semakin memperburuk keadaan
mental seseorang) dalam keadaan diri yang tak punya pondasi bahkan beberapa
dokter pskilog yang tak pernah berjumpa dengannya sebelumnya langsung tak
mengakui dirinya berkepribadian majemuk dan berusaha menjebloskannya kedalam
penjara khusus orang sakit jiwa yang minim perawatan. Pertentangan dokter
psikolog dan psikiater yang ada dipihak Milligan dengan dokter psikolog dan
psikiater lainnya yang tak mengakui Milligan berkepribadian majemuk di depan
hakim pengadilan (namun mengakuinya hanya mengidap penyakit mental biasa) menjadi
puncak klimaks kisahnya yang berdampak pada nasib hukumannya apakah ditempatkan
di pusat perawatan yang selama ini ia tinggali atau harus dipindahkan ke
penjara khusus kriminal berpenyakit mental. Keluar- masuk pusat perawatan,
penjara dan pengadilan dilaluinya hampir satu dekade.
Mengulik dari tema ceritanya itu sendiri.
Menurut saya cerita dalam novel ini sangat kaya, meskipun novel ini bertema
psikologi dan seringnya mengambil latar di bangsal perawatan dan kekerasan
keluarga yang diangkat, penulis juga menghadirkan sedikit romansa dan paling
banyak kehidupan kriminalitas yang
lumayan dark (saya sampai
berimajinasi seolah sedang menonton film barat yang sudah tak asing dengan
sindikat mafia dan gembong narkobanya juga kehidupan dipenjara Amerika), juga
yang unik karena mengangkat sedikit kehidupan militer angkatan laut Amerika.
Ada satu hal lagi yang paling menggelitik logikaku dan menurutku ini juga hal
unik dinovel ini adalah mengetahui fakta ketika di dalam tubuh satu orang,
terdapat dua orang kepribadian yang memiliki ideologi yang sangat bertolak
belakang, antara Ragen berkebangsaan Yugoslavia berpaham komunis garis keras
dengan Arthur seorang Inggris puritan kapitalis.
Well, menelisik novel ini dari kacamata lain,
pertama saya ingin menelisik dari penerjemahannya. Penerjemahannya tidak
semrawut, terbukti dari mudahnya alur cerita novel ini di ikuti dengan
bahasanya yang jelas, juga istilah- istilah yang ada itu beberapa diterjemahkan
malah ke dalam bahasa target; bahasa Indonesia, jadi lebih bisa dapat feelnya. Namun ada satu kata yang saya
temukan kurang satu hurufnya (sambi; harusnya sambil, ‘p:522’). Kemudian ada
kata android yang menurutku saat buku ini ditulis dan diterbitkan belum ada
ponsel android sama sekali begitupun saat dipublikasikan di Indonesia pertama
kali, yaah! Aneh aja ada kata itu. Kedua saya ingin menelisik dari pesan moral
yang menurut saya ini adalah pelajaran yang bisa diambil dan mewakili
keseluruhan dari kisah nyata seorang Billy adalah pikirkan baik- baik dan
sangat hati- hati dengan siapa kamu akan menjalin hubungan dan membentuk sebuah
keluarga. Membangun keluarga tidak sesederhana jatuh cinta, lalu menikah.
Keluarga adalah pertahanan pertama, carut- marutnya ia dampaknya bisa melebar
ke mana- mana. Ketiga tidak banyak kutipan yang bisa dipetik dari novel ini,
apalagi di bagian pertama. Jika mempertimbangkan jumlah halamannya. Hemat saya
mungkin terjadi lantaran penulis mencoba betul- betul fokus untuk menghadirkan
kehidupan Billy secara riil dan sebisa mungkin menuangkan apa adanya.
AFTER READING
Setelah membaca
novel ini, penilaianku terhadapnya bisa dibilang meningkat. Jumlah 700 halaman
yang awalnya membuat saya sedikit ragu untuk bisa menamatkan dalam waktu
singkat ternyata tidak beralasan jika sudah berhasil sinkron dan larut dalam
alur ceritanya. Itu yang saya rasakan. Bagi mereka yang suka novel dengan tema kriminal,
atau bertema psikologis, ini sangat cocok sekali untuk anda- anda
sekalian. Tapi untuk pecinta novel
romansa, sayang sekali saya tidak menyarankan ini. Meskipun ada sedikit kisah
romantis dalam novel ini, tapi itu tidak akan menutupi cerita criminal yang
lumayan dark dan cerita bangsal perawatan kesehatan mental yang menjadi
mayoritas dinovel ini. merujuk dari bagaimana tokoh, latar tempat dan kisah
yang diangkat dalam novel ini, menurutku ini adalah novel yang cocok pada range usia remaja akhir - dewasa.
Novel ini
selain mengaduk nalar dan logika untuk berfikir mengenai kepribadian tokoh
utamanya, banyak pengetahuan dan istilah seputar psikologi dan kesehatan mental
yang lumayan bisa menambah wawasan. Yang paling menarik bagi saya adalah
penjelasan mengenai kondisi trance,
dan proses fusi, juga penjelasan ilmiah mengenai kepribdian majemuk atau ganda itu
sendiri, apa bedanya dengan yang hanya pura- pura atau mengada- ada. Salah satu
istilah terkenal dalam dunia psikologi; alter ego juga disebut dalam novel ini
yang mana membuat saya refleks saja mengingat salah satu ahli psikologi yang
memperkenalkan istilah tesebut; Sigmund Freud. Novel ini cocok menurut saya,
untuk para mahasiswa psikologi ataupun mahasiswa kedokteran yang mengambil
spesialis jiwa.
Jika
dirating, diluar dari kenyataan bahwa novel ini sesuai dengan minat saya dari
awal, ceritanya yang apik, menghebohkan tapi tidak kehilangan sisi mengharu
biru menibulkan simpatik, apalagi diambil dari kisah nyata, saya berani memberi
9.5/10.


Komentar
Posting Komentar