Pesan Kosong
“Assalamu’alaikum, apa kabar?”
Begitulah bunyi pesan singkat
yang tiba- tiba masuk malam itu darinya.
Dia, salah satu teman kelasku
saat duduk di bangku SMA dulu. Seingatku dia adalah teman yang agak penyabar
tapi pintar. Kami hanya beberapa kali saja pernah menyapa dan berbincang,
itupun karena sebuah diskusi kelompok.
Setelah lulus SMA, sebagian
besar kami tak pernah bertemu di dunia nyata. Tapi syukurlah lantaran hidup di
abad teknologi ini, kami tak benar- benar lost
contact. Masih ada ruang maya media bertegur sapa sekenanya. Itulah mengapa
Aku tidak heran, dari mana ia dapat nomor ponselku. Kebetulan di grup WA
angkatan kontakku ada, begitupun dia.
“Wa alaikum salam,
Alhamdulillah baik”
“Kamu sendiri, gimana kabarnya?”
dua baris pesan kuketik padanya
“Alhamdulillah. O iya! Selamat atas
wisudanya”, menyelamatiku meski perayaan wisudanya telah berlangsung dua hari
yang lalu.
Aku membalasnya lagi kemudian.
Hingga tak sadar malam itu segala hal tentang kehidupannya dan kehidupanku
setelah meninggalkan masa putih abu- abu, kami obrolkan.
**
Setelah malam itu, melalui
pesan singkat menanyakan kabarku, hubungan kami semakin dekat. Kedekatan yang
hampir bukan lagi sebagai seorang teman biasa. Sejujurnya, aku dan dia belum
pernah bertemu setelah kelulusan di SMA. Memiliki ambisi dan impian yang kuat,
membuat kami berdua terpisah jarak cukup jauh. Aku setelah lulus kuliah masih
betah di tanah rantau melanjutkan kuliah, begitupun dirinya meski dia bukan
untuk kuliah.
“piu”
“assalamu’alaikum”
“Eh, lebaran tahun ini kamu
pulkam gak?”, WA ku berbunyi. 3 pesan bersusun darinya.
“belum tahu nih. Niatnya sih
pengen pulkam, Insya Allah”.
“kenapa? Kamu pulkam?”, balasku
setelah beberapa waktu.
“aku bakal pulkam tahun ini”
“gak mau reunian?”, dia
membalas
“reunian?”, balasku cepat
“aku pengen berkunjung kerumah”,
balasnya sigap
“wah asik nih! Reunian deh.
Bareng yang lain juga”, aku membalas
‘Satu pesan telah dihapus’,
kalimat ini yang kemudian muncul bersamaan dengan emoticon jempol setelahnya.
Chat ia tutup dengan emoticon
jempol. Akupun hanya membuka pesannya tanpa membalasnya lagi juga menanyakan
kalimat apa yang ia kirimkan padaku tapi urung kemudian dihapus.
**
Lebaran tiba tapi pertemuanku
dengannya tak pernah menyata. Aku tak pulang kampung saat itu, dan dirinya
sebaliknya. Aku mengiriminya pesan ucapan lebaran, begitupun dia. Dia
menyayangkan aku yang tak pulang kampung. Lalu mengungkapkan pesan yang pernah
ia hapus sebelumnya bahwa sebenarnya ia ingin berkunjung dan bertemu langsung
denganku juga dengan ibuku. Dia ingin mengungkapkan niatnya serius padaku,
bahwa dia selama ini menyukaiku. Bahkan semenjak kami sekelas di SMA dulu.
“cuman aku hapus lagi pesannya.
Aku gak yakin kamu bakal terima aku”
“aku baru tahu kamu ternyata
masih lanjut sekolah”, potongan pesannya padaku.
“kalo jodoh gak kemana sih, Bar”
“iya, aku malas aja cerita
kuliah ku yg sekarang”
“tapi sumpah beneran selama
itu?”, tanyaku keheranan
“jadi gimana, Ci?”, tanyanya
singkat
“aku sih gak bisa bilang iya di
sini. Apalagi ini cuman chat doang. Kalau kamu memang serius sama aku datang
kerumah aja langsung Bar”, aku mengetik panjang lalu kututup dengan dua buah
emoticon senyum.
“tapi aku gak yakin keluarga
kamu bakal terima aku Ci”
“aku udah pendam perasaan ini
lama banget Ci, tapi aku sama kamu beda banget.”
“apalagikan kamu bentar lagi
master, sedang aku cuman pegawai biasa”, pesannya kemudian.
“kok ngomongnya gitu Bar. Aku
juga apalah. Bukan siapa- siapa”
“aku gak mungkin minta kamu
datang kerumah kalau aku gak serius juga sama kamu Bar”
“aku juga gak punya apa- apa,
kamu masih mending punya banyak sawah di kampung”, pesanku padanya untuk
membuatnya nyaman.
Setelah perbincangan yang
membuat hati tak karuan itu, chat kami kembali normal sedia kala. Meski
sesekali tetap saja terselip bahasan mengenai perasaan masing- masing, Bulan
demi bulan komunikasi intens yang terjalin diantara kami membuatku memang
memiliki harapan padanya dan tibalah waktu pesan darinya kembali datang.
“sibukkah?”
“gak juga. Lagi beres2 rumah”,
kebetulan hari itu weekend
“maaf. Mengenai perkataanku
dulu untuk serius sama kamu sampai detik ini, uang panai’ untuk lamar kamu masih sangat jauh. Maaf karena aku gak
mampu buktikan kata-kataku”, pesan darinya yang membuatku kaget.
Aku tak menyangka akan dichat dengan kalimat seputus asa itu di
hari mingguku yang kuharap akan santai dan tenang. Kalimat apa yang harus
kuutarakan padanya. Aku bingung sendiri. Meski begitu aku tetap membalas pesannya
hingga sampailah pada keputusan akhirku
“Well, aku nunggu undangan kamu
tahun ini kerumah”
**
Satu chat pribadi masuk
Sabuah undangan elektronik di
bawahnya bertuliskan
“hadir yah Ci”.


Komentar
Posting Komentar